(ff pertama) I KNOW (part 1)

Aku berjalan dalam dinginnya malam. Jaket yang kupakai tidak bisa menepis dinginnya udara malam ini. Dengan ditemani payung merah jambu, aku berjalan menuju apartemenmu.. Aku ingin bercerita. Mengobrol…. Hatiku kini gundah, teman! Hanya kamu yang aku percaya.
Langkahku berhenti di depan apartemenmu. Aku kuncupkan payung merah jambu dan berjalan menuju lift. Lantai 3….
Kini aku tepat di depan kamarmu. Aku pencet bel berirama Jingle Bell. Namun, kau tidak ada.
Akhirnya aku menelpon handphonemu, tapi tidak kau angkat. Teman, aku butuh dirimu sekarang…
Lama aku menunggu di depan kamarmu, berkali-kali aku memencet bel. Handphone masih di telinga, mungkin saja kau berubah pikiran untuk mengangkat telpon dariku…. Tapi, kau tidak menjawab.
Hatiku sakit. Saat itu juga air mata langsung tumpah. Tapi cepat-cepat aku hapus. Karena aku tidak mau menangis. Setidaknya bukan di tempat umum….
Aku Diam di depan kamarmu dalam waktu yang cukup lama. Aku masih menunggu. Tapi, akhirnya aku menyerah. Sekarang aku turun ke lantai 1. Kakiku sudah melangkah menuju pintu keluar. Tapi aku ingat! Ada donghae di sini!
Cepat-cepat aku berjalan ke kamar Donghae dan menekan bel apartemennya.
Aku harap kau ada di sini. Payung yang awalnya basah, sudah agak mengering sekarang. Aku masih menunggu di depan pintu.
“Hyung,, kenapa?”, tanya Donghae saat membuka pintu.
“Apa Heechul ada?”, tanyaku langsung.
“Obseo… Dia tidak ada di sini”, jawab Donghae.
Tapi saat itu aku tahu Donghae berbohong, karena aku melihat kelima jarimu. Kau mengintipku kan?
“Oooh… Keure?”, hatiku sakit. Tapi aku tidak bisa memaksamu. .
“Tadi aku juga ke kamarnya, tapi dia tidak ada. Sepertinya Hyung sedang pergi…”, jawab Donghae. Tapi aneh, matanya tidak menatapku saat bicara. Aku tahu Hae, kau pasti merasa bersalah padaku.
“Baiklah… Gomawo Hae.. Aku sebenarnya mau mengobrol dengan Chullie….”, mataku masih melihat kelima jarimu. “Kalau begitu…. Kau bisa kan memberikan ini padanya?”, aku menyerah sekarang. Aku keluarkan kotak kado berbentuk segiempat dari dalam jaketku.
“Chogi….. Tolong kasih ke Chullie….”, aku berusaha tidak memaksamu keluar.
“Ah, ne… Akan aku sampaikan…”
Kelima jarimu masih di sana. Sekarang sedikit bergetar. .. Apa kau tahu Chullie? Hatiku sakit. Karena kini kau menjauhiku.
“Gomawo Hae… Aku pulang dulu”
Aku meninggalkan apartemenmu dengan langkah yang sangat pelan. Hatiku bukan lagi sakit, bahkan sudah mati. Aku butuh dirimu teman… Cuma kamu yang bisa aku percaya. Tapi kini kau meninggalkan aku.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………
“Hyung, ini….”, Donghae memberi kotak itu padaku.
Lama aku pandangi kotak itu. Aku tidak ada niat untuk membukanya. Karena tanpa perlu dibukapun, aku tau isinya pasti coklat putih kesukaanku.
“Hyung… Ada apa? Ada masalah apa dengan Hankyung hyung?!”, Donghae berdiri di hadapanku dengan berkacak pinggang.
“Aniyo… Gwenchana…” Hanya ingin menjauh
“Tsk! Hyung! Kau tidak lihat wajah Hankyung hyung tadi? Aku yakin dia tau kau ada di sini. Sudah lama aku tidak melihatnya, tapi sekarang dia tidak pernah tersenyum lagi. Hyung , kau tidak mau melihat senyuman polos itu lagi kah?”, Donghae berlalu dan rebahan di tempat tidurnya.
“Mian…. Maafkan aku…”, gumamku berbisik pada diri sendiri.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Aku duduk di tepi tempat tidur. Tenagaku hilang. Tadi aku berharap kita bisa bertemu. Banyak sekali yang ingin aku ceritakan. Kehidupanku sekarang, albumku, lalu juga tentang rinduku pada kalian semua. Rinduku padamu My Cinderella… Mungkin, kalau tadi kita bertemu. Lelah di pundakku ini akan hilang.
Tuhan, biarkan kali ini aku menangis. Maafkan aku Tuhan. Tapi aku butuh dia…
Kim Heechul, apa kau mendengarnya? Apa kau mau berteman denganku lagi?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

“Dia…. pasti capek datang ke sini”, gumam Donghae. Kami tergolek di tempat tidur, mataku menatap langit-langit kamar.
“Dia.. memang bersalah. Dia pergi tanpa pamit..”, Donghae menghela nafas. “Tapi Hyung. Kenapa kau tidak bisa memaafkannya? Kenapa tadi tidak menemuinya? Aku yakin, hyung rindu dengan Hankyung hyung. Benar bukan?!”
Aku diam. Tidak bisa. aku takut bertemu dengannya. Aku tidak boleh bertemu dengannya sekarang.
“Kalian berdua… kalian berdua adalah couple terbaik sepanjang masa”, Donghae berbisik. Suaranya begitu pelan.
“Tentu saja. kami pasangan terbaik sepanjang masa”, hatiku pedih saat mengucapkan hal itu. Kenangan bersamanya terlalu banyak.
Donghae terkikik geli. “Of course! You two, the best couple in the world”, kemudian Donghae diam.
“Aku… Jujur Hae, tadi aku senang bisa mendengar suaranya. Melihatnya dari balik tembok”
Donghae menoleh, dilihatnya mata Heechul sudah basah oleh air mata.
“Tapi aku takut… hikss…”,suaraku tersendat. “Aku… Aku takut Hae! Aku takut aku akan memaksanya kembali! Aku takut Hae!”, nafasku sesak.
“Hyung… Uljima…”
“Karena itu, aku….”
“Arasseo….”. Cuma satu kata yang keluar dari mulut Donghae, tapi itu bisa membuatku tenang. Aku beruntung, karena Donghae adalah teman curhat yang paling mengerti aku. Selain Koko dari Cina itu!
Han… mian… tadi sikapku sangat buruk. Aku tidak mau kau menangis lagi. Aku ingin belajar merelakanmu. Aku ingin belajar mengikhlaskanmu..

Advertisements

2 comments on “(ff pertama) I KNOW (part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s