Snow White Part 1

Some day My Prince Will Come

Some day we’ll meet again

And away to his castle we’ll go

To be happy forever i know

Some day when spring is here

We’ll find our love anew

And the bird will sing

And wedding bell will ring

Some day when my dreams come true

………

Aku tersenyum riang mendengar lirik lagu yang dinyanyikan Snow White saat menimba air. Aku sering berkhayal suatu hari ada pangeran berkuda putih yang menjemputku, dan membawaku ke istananya. Hidup bersama bahagia selamanya. Tapi sayangnya zaman kerajaan itu sudah tidak ada lagi. Lagipula aku hanya rakyat biasa, dan di korea mana ada kerajaan.

“Snow white lagi?”, temanku Lee Raneul menggeleng-geleng, dia paling tidak tahan mendengar lagu itu berputar di ipod ku.

“Ne… Aku tidak pernah bosan mendengarnya”

Raneul menghela nafas. “Oh c’mon Darl! Ini zaman udah modern. Mana ada yang namanya pangeran berkuda putih”

“Oh c’mon Raneul! It just my dream! What wrong with my dream?”

“Otakmu yang salah. Sudah kuliah masih saja suka dongeng”

Aku mengedikkan bahu. “Tapi isi syairnya benar-benar menyentuh.  Merefleksikan impian semua anak perempuan di dunia ini”, aku termenung, mataku menatap keluar jendela.

“Hanya dirimu. Tidak untukku”, tolak Raneul. Aku cuek saja, aku dan Raneul memang kurang sejalan kalau masalah ini.

“Someday my prince will come. Someday we’ll meet again…”, tanpa sadar aku ikut bernyanyi.

“Oh NO! Cukup kau saja yang mendengarnya. Jangan buat aku jadi sakit telinga, Hyeri-ssi”, Raneul pindah tempat duduk ke depan meja guru. Aku terkikik geli melihatnya.

“Someday My prince will come… Someday we’ll meet again. And away to his castle we’ll go…”, aku bernyanyi sambil berputar mendekati Raneul. Ia bergidik ngeri.

“Jangan kumat Hye! Aku tidak bawa obat”, matanya menatapku sinis.

“I don’t care!”, aku tidak peduli.  “Some day when spring is here… we’ll find our love anew…”, aku bernyanyi-nyanyi di ruang kelas. Berputar, sangat menikmati lagu. Sementara Raneul menutup kuping dengan kedua tangannya.

“Honey… Dengarkan aku. Jarang-jarang lho aku nyanyi…”, aku paksa lepas tangannya.

“Aku tahu suaramu suara emas. Tapi nyanyikanlah lagu yang normal. Jangan ini!”

“Hahaha”, aku tertawa, Raneul sangat anti dengan dongeng.

……………

Aku baru tiba di lantai dua saat mendengar suara merdu dari ruang kelas. Aku terdiam di tempat, mendengar lirik lagu itu.

“Snow white?”. Aku tertawa pelan. Masih saja ada yang suka dengan Snow white. Tapi, ngomong-ngomong, siapa yang nyanyi? Suaranya bagus sekali. Aku berjalan menuju sumber suara. Mahta! Ada orangnya.

Aku mengintip lewat kaca di pintu. Wanita itu terlihat senang sekali. Badannya berputar, lalu kakinya berjinjit seperti balerina.

Eh,, siapa namanya? Sepertinya aku baru melihatnya.

“Someday when spring is here.. We’ll find our love anew…”

Aku membuka handphone, dan menekan tombol rekaman. Aku suka suaranya. Suaranya berbeda, tinggi seperti yang dinyanyikan snow white. Klasik dan suara yang sangat cocok di opera.

Tanpa aku sadari, seseorang menepuk bahuku dan ikut mendengar.

“Nugu? Suaranya unik sekali…”

Ah, Sungmin. “Ne. Unik banget kan, Hyung?”

“Nuguyo?”

“Molla… Nanti aku mau cari tahu..”

Sungmin menatapku curiga. “Sudah main sambar saja kau Kyu, hehe”

“Aniya… Aku hanya ingin tahu namanya”

“Jinjja?”, tanya Sungmin hyung tidak percaya.

“Jinjja! Sudahlah, ayo kita masuk kelas”,aku rangkul Sungmin Hyung menuju kelasku di lantai tiga. Sebelum menjauh, aku menoleh ke belakang. Suara itu masih ada… Lagi-lagi aku tersenyum simpul.

……………

Hari ini aku dan Raneul jalan-jalan ke Mall di Myungdeong. Jujur saja, baru pertama kali aku datang ke sini. Dan, mall nya sungguh menakjubkan! Aku berlari-lari kecil menuju toko kaset.

Mataku mencari lagu-lagu klasik. Ketemu! Aku segera menuju kasir. Di sana ada namja yang sedang mengantri juga. Aku berdiri tepat di belakangnya.

Mataku membulat saat melihat kaset di tangannya. Klasik?! Huwaa…. aku mengintip dari balik punggungnya. Jujur saja, aku penasaran dengan wajahnya.

Tiba-tiba dia berbalik, dan tersenyum padaku. Omo~… Pangeran…

Senyumnya manis sekali . Aku balas senyumnya.

“Annyeonghaseyo…”, sapanya, ia membungkuk padaku.

“Ah, annyeong…”

Tak lama kemudian, dia membayar kasetnya. Aku menghela nafas. Padahal tadi pengen ngobrol..

“Agashi.. kasetnya silakan…”, petugas kasir itu menyerahkan kaset yang sudah kubayar

“Ah, mianhae”,cepat-cepat kuambil, dan beranjak pergi dari sana.

“Ya! Kim Hyeri! Darimana saja kamu?”, baru saja aku keluar dari toko kaset, Raneul sudah berdiri di depanku, tangannya terlipat di dada, wajahnya kesal dan memerah.

“Mianhae… tadi aku beli ini”, aku tunjukkan kaset di tanganku.

“Dasar!”, ia berbalik badan, kakinya melangkah cepat meninggalkan aku di belakang.

Aku peluk Raneul dari belakang. “Raneul,, mian… Tapi aku mau cerita sesuatu ke kamu”, wajah pangeran tadi terbayang lagi.

“Mwoya?”, tanya Raneul galak.

Aku berjalan di samping Raneul. “Mungkin lagi-lagi kamu akan teriak dan geleng-geleng kepala kalau dengar cerita ini. Tapi ini nyata, Raneul! Aku ketemu pangeran!”, teriakku kesenangan.

Muka Raneul membulat dan matanya tidak berkedip.

“Senyumnya sangat manis. Aku hampir meleleh, hehe..”

Dan dengan sengaja, Raneul berpura-pura muntah di depanku. Aku mengerucutkan bibir. “Kasih respon yang nyenengin kek. Kan aku lagi senang”

“No! Big NO!”

“Geundae.. Lagu Snow white itu bagai terngiang-ngiang di telingaku..”, aku terkikik geli. “Huwaa…Andai aku bisa bertemu lagi dengannya. Pangeranku…”

Lalu selanjutnya Raneul cepat-cepat kabur. Aku tertawa ngakak melihat tingkahnya.

Aku berjalan pelan mengikuti arah Raneul berlari tadi.

Some day my prince will come

Some day we’ll meet again

And away to his castle we’ll go

To be happy forever i know

Some day when spring is here

We’ll find our love anew

And the bird will sing

And wedding bell will ring

Some day when my dreams come true

Aku tahu aku pasti dikira masih anak kecil. Terlalu percaya pada dongeng-dongeng. Tapi biar berapa banyak orang bilang inilah-itulah, aku tetap percaya. Pangeran itu ada. Pasti ada. Dia nanti akan menjemputku dengan kendaraan mewahnya, hidup di istananya, lalu hidup bahagia selamanya.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s