I Know part 2

Author : Lee Dantae

Heechul pov

Dua tahun sudah terlewati. Aku masih menunggunya untuk kembali. Kalau berdoa tidak cukup, menelponnya juga tidak akan berhasil. Jadi satu-satunya yang bisa kulakukan adalah memaksa. Leeteuk Hyung sudah memastikan semua hal yang sebentar lagi akan kami lakukan.

Aku duduk di atas tempat tidur Hankyung, meraba kasur yang pernah dia tiduri, ingin sekali melihat tubuhnya tidur di kasur ini lagi.

“Hyung, Leeteuk Hyung bilang semuanya sudah siap. Tinggal menunggu besok”, Donghae masuk ke kamarku.

“Hyung?”, tanya Donghae. Aku tak mengubrisnya. mataku masih menekui kasur Hankyung. Dari sudut mataku, aku bisa lihat Donghae berjalan ke dean jendela besar di kamar ini. Matanya melihat pemandangan diluar.

“Sudah musim gugur ya?”, tanya Donghae

Aku mengangguk.

“Hyung,,,?”, ia berbalik menghadapku, majahnya begitu serius Aku menunggu Donghae berbicara.  “Mianhae kalau aku kurang ajar. Tapi aku hanya mau mengingatkan, kalau nanti ide ini tidak berhasil., bagaimanapun juga aku tidak mau Hyung keluar. Aniya… Hyung tidak boleh keluar!!”

“Waeyo? Kenapa kau bilang begitu Hae?”

“Karena aku merasa Hyung akan pergi dari kami. Itu tidak akan terjadi kan Hyung?”, tanya Donghae, suaranya lirih.

Aku menunduk, bagaimana dia bisa tahu kalau aku mau keluar. “Mollaseo,, di sini aku masih punya kalian. Tapi Hae, biar bagaimanapun juga, alasanku tetap bertahan di sini adalah Hankyung. Aku tidak bisa bohong Hae, harapanku untuk membuatnya kembali ke sini sangat besar. Terlalu besar”

Donghae tidak menjawab

“Kalau Tuhan memang ada, dan Tuhan mau mengabulkan keinginanku. Aku Cuma minta satu, kembalikan Hankyung ke sisiku. Hanya itu sudah cukup Hae”

Tiba-tiba Donghae berlari keluar kamar, tak lama ia kembali lagi dan melempar syal abu-abu.

“Itu dari Hankyung Hyung”, kata Donghae. Aku kaget, ini syal yang pernah aku lihat bersama Hankyung saat jalan-jalan di Myungdong. “Aku menyimpannya untuk beberapa alasan. Mianhae Hyung…”

Tanganku menggenggam syal abu-abu tersebut. Panjang sekali dan tebal.

“Besok kita ke Cina, pakailah itu. Aku yakin udaranya pasti dingin sekali”, lanjut Donghae.

Aku menatap Donghae,aku mengerti maksudnya memberikan syal ini.

“Kamsahamnida Hae-ya…”

Donghae mengangguk. “Aku pastikan besok adalah terakhir kali kita ke Cina tanpa dia. Tenang Hyung, aku juga akan berusaha membuatnya kembali”

Aku terenyuh, Donghae begitu yakin kalau Hankyung akan kembali. Aku cuma bisa mengangguk mengiyakan.

“Tidurlah Hyung, kumpulkan tenaga sebanyak-banyaknya. Aku yakin tenaga kita sebentar lagi akan terkuras dalam waktu dekat”

Aku tersenyum, benar sekali. Terkuras habis sampai tidak punya lagi tenaga untuk menyeret kaki kembali ke Korea.

Hankyung POV

Sekarang sedang musim gugur. Tanpa terasa sudah dua tahun aku pergi. Korea dan teman-temanku, sahabatku, apa kabar kalian semua? Aku merindukan kalian. Tidak peduli musim apa. Aku selalu teringat kalian.

“Gege,, syutingnya sudah selesai. Ayo kita pulang”, manager memanggilku.

Aku berjalan menuju mobil di basement. Hari ini aku akan kembali ke Cina setelah lama syuting di Taiwan.

“Oh iya, gege. Ngomong-ngomong aku sudah pesan tiketnya. Ini dia…”, manager memberiku secarik kertas, di depannya ada gambar keluargaku.

Aku tersenyum. Dua hari lagi mereka akan tampil di Cina. Dan aku bisa melihat mereka lagi, secara langsung.

“Hmmm… Gege..”

Aku mendongak, ku lepaskan topi di kepalaku. “Ye?”

“Maaf kalau aku lancang. Tapi aku Cuma ingin memastikan. Kau tidak akan berbuat yang aneh-aneh kan?”

Aku menggeleng. “Tenang saja Gege. Aku Cuma ingin bertemu. Itu saja”

Manager mengangguk, aku diam lagi. Ku raba wajahnya di dalam tiket. “Jujur, rinduku sudah menggunung. Aku harus bertemu dengan mereka. Untuk mengikis gunung ini”

Heechul POV
Hari itu sebentar lagi tiba. Kini kami semua di pesawat. Tinggal menunggu beberapa menit lagi pesawat ini turun. Aku menyimpan iphoneku ke dalam saku, lalu memakai syal abu-abu.

Sebentar lagi musim gugur usai. Tinggal menunggu musim dingin. Aku melihat ke luar jendela. Bandara Cina sudah terlihat.

Yesung menyenggolku, matanya melirik ke samping kiri. Aku mengikuti lirikannya. Ku lihat Leeteuk Hyung tersenyum dan mengacungkan dua jarinya membentuk tanda V. Aku mengangguk.

“Sebentar lagi…”, bisiknya.

“Ne, sebentar lagi”

…………..

Pesawat sudah turun. Aku dan kesebelas member berjalan cepat menuju mobil jemputan. Yah, bisa dibilang mobil pesanan. Karena kami yang memesan, bukan mereka pihak SM. Staff yang setuju dengan ide kami, menyusul belakangan.

Teriakan fans langsung menyambut kami ketika kami keluar. Kami membungkuk bersamaan dan melambaikan tangan. Tapi ini Cuma kamuflase, supaya orang-orang tidak sadar dengan ide briliant ini.

Diam-diam, kami juga menyabotase pihak keamanan bandara. Hahaha..

Aku harus berterimakasih pada Siwon. Karena bantuan dia lah, kami bisa menyabotase mobil, keamanan, dan juga hotel.

…………….

Hankyung POV

Cina tidak berubah. Masih sama, Cuma ada perubahan di berita hari ini. Sekarang aku sedang menonton tayangan berita tadi pagi.

Sosok-sosok itu bermunculan, membungkuk, dan melambaikan tangan. Mataku melihatnya, ia terlihat sangat mencolok. Senyumku terukir saat melihat syal abu-abu yang dipakainya.

“Melihat mereka lagi?”, tanya Ibuku, beliau menaruh nampan berisi buah di meja kecil diantara TV dan kursi yang aku duduki.

“Kapan mereka tampil?”

“Besok”, jawabku sambil makan buah.

“Jadi besok kau akan pergi melihat mereka?”, tanya Ibuku, aku mengangguk.

“Lepaslah semua bebanmu sayang.. Ibu tidak keberatan kalau kau mau bertemu mereka, termasuk kalau kau ingin kembali”, kata Ibuku pelan. Kunyahanku terhenti, aku tidak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari Ibuku.

Cepat-cepat ku tekan tombol off di remote TV, “Aku tidak bisa Bu. Biar bagaimanapun, aku yang memutuskan ingin pergi. Aku pria. Dan aku harus konsekuen dengan keputusanku”

Ibu menggenggam tanganku, matanya menatapku lembut, ia seakan mencari tahu kebenaran lewat mimik wajahku.

Ku tepis tangan Ibu, “Aku mau tidur. Terimakasih buahnya”, aku setengah berlari ke kamar, dengan kasar aku dorong pintu geser kamarku.

Saat tiba di kamar, kakiku berhenti tepat di depan meja belajar. Aku mengambil salah satu bingkai foto dari lima belas yang sengaja aku letakkan di meja belajar. Foto kami saat jalan-jalan di Myungdong.  Air mataku menetes keluar, membasahi kaca bingkai foto dan jatuh tepat di wajahnya yang sedang tersenyum.

Aku tahu sekarang aku sudah lemah dan mulai berpikir untuk kembali. Tapi akulah yang meninggalkan mereka.

“Biar aku melihat kalian sekali lagi. Izinkan aku melihat kalian untuk terakhir kali. Lalu aku akan pergi… Aku janji”.

……………

Heechul POV

“Hyung, ppalliwa! Aku sudah bilang pada Abouji. Tinggal abouji yang mengurus semuanya. Sekarang kita harus cepat-cepat!”, Siwon berbisik pada kami semua. Sekarang kami sedang berjalan mengendap-ngendap menuju basement parkir hotel.

Kepala Siwon menoleh ke belakang.

“Sial! Mereka cepat sekali datang”

Aku menoleh ke belakang. Beberapa Staff melihat kami yang berlari tunggang langgang menuju tangga.

Kami semua buru-buru turun dan masuk ke bus. Ya! BUS! Karena bus lebih besar dan banyak muatannya.

Staff yang tadi melihat kami langsung teriak dan mengejar. Aku melompat masuk ke dalam bus dan mengambil kursi yang paling depan. Member lain berebutan masuk.

Pandanganku lurus ke depan,  ke arah staff keamanan yang berkerja sama dengan kami, mereka mengangguk. Aku balas mengangguk. Nanti mereka akan menghalangi staff lain yang mengejar. Sedangkan empat dari mereka  yang sudah di dalam mobil hitam di luar akan menjaga bus kami sampai ke hotel.

“BERANGKAT!!”, teriak Siwon.

“Kajja!!”, semuanya teriak, termasuk aku.

“Kita kabur? Beneran kita kabur? KITA KABUUURR!!!”, semuanya bertepuk tangan dan bertos ria. Kulihat Sungmin menelpon ayahnya.Kami harus minta bantuan Sungmin. Karena dia paling lancar berbahasa Cina. Jadi dialah yang berbicara pada Ibu. Ibu siapa? Tentu saja Ibu temanku yang bodoh itu.

Aku tersenyum, duduk di depan, mengawasi jalan di depan. Sebentar lagi kekacauan besar akan datang.

……….

Hankyung POV

Aku baru saja selesai memakai peralatan menyamar saat managerku datang dan bilang kalau mobilnya sudah siap. Sebelum mobil melaju, manager menepuk bahuku. “Hati-hati Gege”.

Aku melajukan mobil ke gedung di mana mereka akan tampil sebentar lagi. Ku injak pedal gas lebih dalam. Tidak sabar lagi ingin melihat mereka.

Baru saja sampai di gedung, aku heran. Kenapa banyak wartawan di luar?  Aku tau biasanya juga ada wartawan. Tapi ini terlalu banyak. Ini bukan comeback. Cuma supershow biasa.

Ku ambil topi di dalam tas, merapatkan syal abu-abu, dan memakai kacamata. Kumis palsuku masih bertengger manis.  Saat aku masuk ke dalam gedung,ternyata sudah banyak ELF yang datang.

Setelah aku duduk di seat yang sesuai dengan tiket, aku mengeluarkan lighstick safirblue Superjunior.

Tanganku juga mengeluarkan benda-benda lain, aku menyiapkan buku kumpulan foto Superjunior sebelum debut sampai sekarang. Termasuk saat aku masih ada. Di halaman terakhir, aku menulis namaku dan pesan untuk mereka berdua belas, tidak lupa membubuhkan tanda tangan.

Aku tersenyum, sudah dari lama menyiapkan semua hal ini. Dan hari ini, benda-benda ini akan sampai di tangan mereka.

……………

Heechul POV

Aku berbaring nyaman di kasur.  Member lain ada yang nonton, main game, dan makan. Siwon duduk di sampingku, tangannya menggenggam ipad.

“Hyung santai sekali”, katanya.

Aku mengangguk. “Harus dimanfaatkan sebaik-baiknya”

Enhyuk yang sedang menggonta-ganti channel terkejut. Channel yang ia pilih sedang mengupas supershow. Tanpa dikomando, semua pandangan kini fokus pada televisi.

Aku kaget, berita itu live dan memang sekarang harusnya ada supershow.

“&^$^*$#%@%(&%(_superjunior($@!$%#”

Presenter itu ngomong pakai bahasa Cina. Aku tidak tahu artinya. Tapi yang pasti tadi dia bilang superjunior.

“Hyung? SM gila ya? Mana mungkin acaranya bisa mulai kan?”, tanya Siwon pelan, hampir berbisik malah. Aku menggeleng tidak tahu.

“Aku rasa tidak akan. Soalnya kita semua ada di sini”, kata Yesung.

“Bagaimana bisa mereka memulai acara sedangkan penyanyinya ada di sini?”, tanya Ryeowook tidak percaya.

Tiba-tiba kamera itu menyorot seseorang yang sedang menunduk-nunduk dan jalannya terhadang banyak orang. Aku tersenyum menang.

Sosok itu semakin jelas, orang yang aku rindukan itu kini wajahnya terekam sempurna di televisi.  Hankyung. Dan aku tau hal itu. Kedua belas member juga ikut tersenyum. Karena mereka juga tau kalau Hankyung membeli tiket untuk menonton kami.

“Aku mau tahu bagaimana SM menyelesaikan masalah ini”, kata Kibum.

“Yang jelas si bodoh itu yang akan kewalahan hari ini”, aku tersenyum licik. Siwon dengan sigap menelpon seseorang dan memberi perintah.

…………..

Hankyung POV

Semuanya terlalu tiba-tiba.

Mereka kabur! Bagaimana bisa?! Mereka tidak berpikir apa dampaknya ? Apa mereka tidak  punya otak?

Dan bagaimana mungkin sekarang aku bisa terkepung dengan berbagai kilatan blitz camera. Teriakan-teriakan orang yang menyebutkan namaku. Lalu banyak suara-suara lain, entah itu pertanyaan wartawan ataupun teriakan ELF.

Aku tidak peduli! Aku ingin kabur dari tempat ini!

Aku berlari menuju mobilku. Tapi niatku tidak bisa dilanjutkan, karena mereka semua mengepung, langkahku terhenti.

“AKU TIDAK TAHU!”, aku berteriak marah. Kilatan-kilatan itu makin parah.

Tuhan,, mimpi apa aku malam tadi?!

……………

Heechul POV

Aku ingin tertawa melihat mukanya yang frustasi. Di depan kamera dia sampai berteriak. Pasti hal ini terlalu tiba-tiba untuknya.

Tapi inilah balasan. Balasan untuknya karena sudah pergi tanpa pamit. Sekarang dia juga harus merasakan bagaimana rasanya ditinggal pergi tiba-tiba. Lalu juga perasaan bingung dan frustasi saat dirimu ditanya berbagai macam pertanyaan karena hanya dirimulah satu-satunya kunci informasi.

“Kasihan sekali dia, Hyung”, kata Ryeowook dari balik kulkas. Aku yang sedang melihat berita lewat laptop tidak menyahut.

“Beritanya terlalu hebat Wookie! Lihatlah! Kita jadi Hotline news di berbagai negara. Terus juga jadi nomor satu di internet”, aku kegirangan.

“Jangan lupakan twitter, Hyung. Mentionmu paling penuh dari kemarin. Terus yang lain juga termasuk Henry dan Zhoumi”, kata Ryeowook sambil minum air langsung dari botol. Lalu dia duduk di sampingku, ikut melihat laptop.

“Lihat! Aku sudah beli majalah hari ini! Dan hebatnya, semuanya tentang kita. Bahkan di koran juga ada”, Eunhyuk muncul tiba-tiba dan menaruh banyak majalah di meja.

“Jangan lupa juga popular topic di twitter, Hyung. 5 topik sekaligus menyangkut kita. Salah satunya Superjunior was dissapear”, Ryeowook menyahut lagi.

Eunhyuk berkacak pinggang, kepalanya menengadah ke atas. Ia menghembuskan nafas, lalu menghirupnya lagi. “Hufht…. Kita dalam bencana besar. Tapi mungkin cuma kita satu-satunya yang buat legenda ini. Hahaha…”, Eunhyuk terkikik, ia lalu duduk di kursi di sampingku. “Setidaknya aku punya cerita yang bagus untuk cucu-cucuku nanti”, katanya puas.

Aku tidak peduli. Rencana ini dilakukan untuk membuatnya kembali.

PING…

Email baru masuk. Aku membuka email itu.

“HAHAAA”, tawaku.

Kyuhyun yang baru keluar dari kamar mandi langsung berjalan ke arahku, “Mworago??”

“Lihatlah!”, tunjukku. Mereka bertiga menatap laptopku.

“HAHAHA….”, mereka ikut tertawa

“Segitunya frustasi ya?”, sindir Eunhyuk.

Kyuhyun mengangguk. “Aku yakin dia dikasih tahu Ibu alamat emailmu, Hyung”

Aku mengangguk mengiyakan. “Memang itu rencanaku”

“Yaah, kalian memang pasangan gila! Aku tidak mau tahu kalau kau nanti ditinju sama Hankyung Hyung. Yang pasti aku hanya menonton, Hyung. Ingat,,, Hanya Me-non-ton..!”, Ryeowook bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur.

“Tenang saja. Kalau hal itu terjadi, aku yang akan tertawa paling keras Hyung”, Kyuhyun juga ikut ke dapur.

“Dan aku akan merekam kalian nantinya”, kata Eunhyuk.

Aku mengedikkan bahu. “Terserah kalian saja”

……………

Hankyung POV

Bagaimana bisa Ibu tau email si keparat itu? Aku mengetik cepat lalu mengirimnya. Sudah sepuluh email aku kirimkan. Dan belum ada yang dibalas.

“Sial kau Chullie!”, aku berteriak, Ibuku datang dan duduk di sampingku.

“Mereka hanya main-main, kau jangan tegang begitu”

Aku menggeram. “Main-main apanya? Ini kelewatan Bu!”

Tiba-tiba handphoneku berbunyi.

Nomor asing? Aku menoleh pada Ibu. “Ini mereka?”

Ibu mengedikkan bahu. “Entahlah”

Aku mendesis kesal. Ibu juga ikut-ikutan mereka. Jariku menekan tombol dial.

“Yoboseyo? Hankyungie?”, suara itu menyahut.

“YA! Kau ini,,, bersembunyi dimana hah?”

Aku berjalan cepat ke garasi mobil. Hendak pergi ke tempat mereka sesegera mungkin.

“Ops… Jangan marah Kyungie… Kalau marah kami tidak akan memberi tahu tempat kami lho”, ucapnya santai. Aku yang baru saja membuka pintu mobil, jadi kesal, dan menutup pintu mobil dengan kasar.

“Jangan main-main Chullie. Kau tahu masalah ini jadi sangat membesar sekarang?”

Dia tertawa. Aku juga bisa mendengar suara tawa orang lain.

“Jangan bilang mereka semua ada di sana”?”, tanyaku hati-hati.

Tawa itu masih ada, dan dengan kompaknya mereka menyapaku. “ANNYEONG HANKYUNG HYUNG…”

Ku tendang keras-keras ban mobilku. “Kalian semua mempermainkan aku!”

“Tenang Kyungie, kami semua ada disini kok”, suara Leader menyahut.

Lagi-lagi ku tendang ban mobil. “Neo micheoso?? Eoddiga? Eoddi? Aku akan ke tempat kalian sekarang”

“Tidak semudah itu Hankyung-ah”, kata Heechul.

Aku duduk di kop mobil. “Kalian ingin apa? Ingin aku kembali? Jangan bermimpi Chullie… Ini masih siang”

“Kalau begitu karir superjunior hanya sampai di sini”, ancamnya.

“YA! Jangan bawa-bawa superjunior!”

“Kau yang harus tau posisimu sekarang Kyungie. Kau harusnya sadar. Apa sebenarnya alasan kami melakukan ini!”

“Aku bukan superjunior lagi!” ucapku. Akhirnya aku mengeluarkan kalimat itu, lagi.

“Kalau begitu, besok superjunior tidak ada lagi. Dan kau mungkin tidak akan melihat bahkan mendengar berita kami lagi. Tidak aku, Leeteuk, Siwon, dan member lainnya”.

Tanganku memijit tengkuk. “Kau kira ancamanmu ini mempan hah?”

Ia tertawa, “Aku tidak mengancam. Lebih tepatnya memberi opsi. Superjunior bubar atau kau kembali”

Aku terdiam. Aku belum siap mendengar kalimat ‘Superjunior bubar’.

“Kami akan menunggu mu 3×24 jam. Kirim saja jawabanmu ke emailku. Asal kau tahu, nama Superjunior sekarang ada di tanganmu. Bagaimana kelanjutannya, itu tergantung pada jawaban yang kau berikan, Kyungie… Anyyeong”

TUUT….TUTT….

Kakiku lemas seketika. Opsi ini terlalu berat.

Aku menangis, pikiranku kalut. Aku harus bagaimana? Ottohke?

…………..

Heechul POV

Aku mematikan iphone, mataku menatap Leeteuk Hyung. Ia segera memelukku. “Kita sudah berusaha maksimal Chullie. Tuhan tahu mana yang terbaik untuk kita”

“Kau dengarkan Hyung waktu Hankyung bilang dia bukan superjunior lagi? Aku takut Hyung, aku takut nanti dia tidak kembali. Aku takut usaha kita sia-sia”

……………

Satu hari sudah lewat. Tidak ada kabar darinya. Ibu juga bilang dia menghilang.

Apa ini terlalu berat? Apa dia sunguh-sungguh ingin pergi?

Apa tidak bisa lagi kita sepanggung bersama lagi? Tinggal di dorm yang sama?

Dua hari sudah lewat. Aku tidak bisa tenang lagi. Siwon yang berdiri di hadapanku juga tegang. Tadi pagi Aboujinya menelpon, dan bilang bahwa Lee Soman datang ke rumahnya. Aku yakin Lee Soman tahu kalau hal ini tidak mungkin akan terjadi kalau bukan ada campur tangan orang lain. Dan orang lain itu tak lain dan tak bukan adalah Ayahnya Siwon dan Ayahnya Sungmin.

Aku merasa bersalah pada mereka. Aku lah yang merengek-rengek, menangis dan galau karena kepergiannya. Harusnya aku juga ikut pergi saja.

“Harusnya aku keluar saja dari Suju kalau begini”

PLAKK..

Siwon menamparku. Aku kaget, kulihat mata Siwon memerah dan rahangnya mengeras.

“Neo paboya! Kalau aku dengar kalimat itu keluar dari mulutmu, kau tidak akan melihatku lagi di dunia entertainment, Hyung”

Siwon menarikku paksa, lalu mendorongku duduk di kursi. Aku melihatnya menarik beberapa kursi. Satu…dua….lima….tujuh….delapan….sebelas….dua belas…

“Ini kita awalnya”, ia berbicara. Nadanya meninggi. “Tahun pertama kita menyandang nama ini di belakang nama kita”

Lalu Siwon menarik satu kursi lagi. Tiga belas….

“Dan ini ketika Kyuhyun datang. Keluarga kita berkumpul”. Siwon melempar 1 kursi ke samping kiri, tersisa dua belas..

“Ini saat kau kecelakaan”. Ia melempar lagi 4 kursi lainnya.  Sisa delapan…“Ini saat mereka kecelakaan”.

Aku terdiam, hanya bisa duduk melihat Siwon menarik dan mendorong banyak kursi. Siwon melempar jauh sebuah kursi. “Dan ini Kibum yang pergi”. Tangannya menepis satu kursi lagi. “Ini saat Kangin Hyung pergi”

Ia lalu menarik satu kursi lagi keluar dari lingkaran. “Dan ini saat dia pergi…”, Siwon menatapku.

“Kau lihat kursi ini? Kau lihat mereka! Mereka bukan keluar Hyung. Mereka hanya pergi sebentar. Tinggal kita  menarik mereka”

Lalu Siwon mengembalikan kursi Kibum, kursi Kangin  dan kursi lainnya ke dalam satu lingkaran, hanya tersisa satu kursi milik seseorang yang terpisah. “Dan ini kondisi kita sekarang. Kita tinggal menariknya”, Siwon menarik lambat kursi Hankyung, meletakkannya di sampingku.

Air mataku tumpah. Aku benar-benar tidak tahan lagi.

“Mianhae… Jeongmal Mianhae….”, aku peluk tubuh Siwon, aku tidak tahu dia juga terluka, sama sepertiku.

“Jangan bilang hal itu lagi Hyung.. Aku tidak ingin berpisah. Aku masih ingin kita bersama-sama…”

Aku mengangguk. “Ne,, mianhae Siwon-ah”

“Tinggal menjemputnya, lalu kita akan kembali seperti semula”, ucap Siwon. Aku mengangguk.

Tinggal sedikit lagi, tinggal menunggunya…

……………

Author POV

Leeteuk, Eunhyuk dan member lain menangis di balik tembok. Mereka juga ikut mendengar dan mendengar kegaduhan tadi.

“Aku tidak tahu Siwon Hyung memikirkan kita”

Leeteuk menatap punggung dongsaengnya yang sedang memeluk Heechul.

“Siwon Hyung selalu memikirkan kita. Hanya ‘Dia’ saja yang tidak pernah”, ucap Yesung lirih. Kesepuluh member menoleh dan memeluk Yesung.

“Kita tidak pernah tahu jalan pikiran Hankyung. Kita harus berpikir positif Yesungie”, Leeteuk menepuk bahu Yesung, tatapannya beralih ke Sungmin. Bahkan orang setegar Sungmin juga ikut menangis.

Leeteuk terharu, semua membernya ikut memikirkan masalah ini. Banyak air mata yang tumpah, mengalir keluar. Tapi Leeteuk yakin, air mata ini akan diganti dengan kembalinya Hankyung.

……………

Hankyung POV

11 p.m. Hari Terakhir..

Aku duduk termangu menatap laptop. Masih bingung dan ragu.

Ini sudah hari ketiga. Dan tinggal beberapa jam lagi, tinggal satu jam lagi, tiga hari akan lewat.

Detik jarum jam terus menggema, aku menarik nafas panjang.

“Mianhae chullie”

Heechul POV

11.30 p.m. Hari terakhir

Aku duduk tegang di depan laptop. Daritadi aku merefresh email, tapi kondisinya sama saja. Aku merefresh lagi, lagi dan lagi. Tapi tidak berubah.

Mataku mencari jam di kamar, tiga puluh menit lagi.

“Tenanglah Chullie. Aku yakin dia akan datang”, kata Leeteuk.

Aku mengatur nafas, rasanya sesak sekali.

Hankyung POV

11.45 p.m . Last day

Detik jam itu,, muka mereka.

Semua hal itu berputar-putar di kepalaku…

Heechul POV

11. 55 . Last day

Tidak… Jangan bilang ini gagal. Tuhan…

Hankyung POV

12 p.m. Time Out

Aku menatap layar laptop. Tanganku bergerak dan

SEND….

Heechul POV

12 p.m

Aku berteriak. Jumlah emailnya bertambah. Cepat-cepat aku buka inbox. Aku melihat ada email baru.

“Dia!”, mereka berteriak.

Aku mengklik email darinya…

Mukaku berubah sendu

Mianhae Hyungdeul, Dongsaengdeul…

Aku yakin kalian kecewa. Jeongmal Mianhae..

Tapi aku memang bodoh. Aku pengecut

Aku tetap saja menyakiti kalian. Tetap membuat luka di hati kalian

Selalu membuat kalian mengeluarkan air mata.

Merepotkan kalian karena aku pergi tanpa pamit

Membuat Sahabatku gila hampir 3 bulan

Sudah kubilang, aku bodoh, jiwaku terlalu lemah

Aku tidak ingin melukai hati kalian lagi

Maka dari itu,

Izinkan aku,,,

Kembali….

Bolehkah?

Hankyung POV

Mataku menatap layar laptop. Aku menunggu email balasan darinya.

PING…

Aku mengklik email darinya.

Aku tersenyum, ia lupa memberi alamat email. Yang ada malah isi curhatannya..

Lalu ada email baru lagi. Kali ini email berisikan alamat.

“Waktunya sudah tiba… Sambut aku, semuanya”

Heechul POV

Bilang ini keajaiban, aku bilang ini anugrah Tuhan. Aku senang sekali. Ini adalah hari terbaikku. Aku masih ingat bunyi bel, lalu sosoknya yang datang dengan wajah hampir menangis.

Sorakan member dan para staff, lalu pelukan eratnya saat menangis di kamar, ketika aku dan dia dibiarkan berdua.

Tuhan telah mengabulkan permintaanku. Kini dia kembali kepada kami.

Aku menatapnya yang tidur di sampingku. Kami bertiga belas memutuskan untuk tidur bersama di ruang tengah. Poros pusatnya adalah Hankyung.  Nafasnya teratur, aku mendekatkan diri ke dadanya, telingaku bisa mendengar detak jantungnya.

Tiba-tiba tangan itu menekan kepalaku erat ke dadanya. “Biar seperti ini Cinderella. Aku ingin tidur dengan kepalamu bersender di dadaku”

Aku mengangguk. Sudah lama sekali tidak seperti ini.

“Besok kita makan Nasi Goreng Beijing saja. Mau kan?”

Aku mengangguk lagi.

“Terimakasih Chullie…”, ucapnya.

Aku pura-pura tidur. Aku tidak ingin menerima ucapan terimakasih itu. Karena, akulah yang harusnya berterimakasih padanya. Dialah orang yang sudah membuat kesedihan sekaligus membuat kebahagiaan secara bersamaan.

Terimakasih Hankyungie.. Kau adalah pahlawan, penyelamat ikatan persahabatan yang hampir putus. Kalau kau tidak pergi,kita tidak akan sadar, betapa pentingnya tiga belas itu..

FIN

Selesai juga akhirnya. Gimana?

Saran dan kritik sangat ditunggu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s