In My Dream


Cast : Leeteuk

Lee Han Ni

Aku anak yang tidak berguna. Benar-benar tidak berguna. Kerjaku Cuma bisa membuat Omma dan Appa khawatir. Aku merasa aku adalah anak yang gagal. Seharusnya aku tidak lahir di dunia ini. Kalau aku tidak lahir, orangtuaku tidak akan mengalami kesialan demi kesialan. Semua penderitaan itu tidak seharusnya mereka tanggung.

Aku harus pergi. Tidak boleh lagi menyusahkan mereka. Cukup sampai di sini saja, lalu selanjutnya aku akan hidup sendiri. Omma, Appa, Onnie, Oppa, dongsaeng, mainhae… aku pergi tanpa pamit dengan kalian. Terimakasih sudah menjadi keluargaku selama 20 tahun.

……….

Mataku memandang jijik dengan kondisi apartemen yang akan aku tempati. Tempat ini begitu kecil, berlumut dan berjamur. Aku membungkuk rendah saat mengantar pemilik apartemen keluar. Saat aku kembali ke dalam, pemandangan itu terlihat lagi.

“Semangat Lee! Kau pasti bisa! Ayo semangat!”, aku memberi semangat pada diriku sendiri, ku ambil sapu yang diberikan pemilik apartemen dan mulai membersihkan tempat yang nanti akan jadi istanaku ini.

……….

“Makan apa ya??”, aku sedang memilih makanan kaleng di toko serba ada. “Beras sudah, gula, garam, pisau, sendok, garpu, piring, gelas, sabun cuci, sabun mandi,frying pan, pot,,”, aku membaca ulang kertas-kertas di tanganku, lalu mencocokkannya dengan barang di troli. “Makan sarden saja kalau begitu”, ku ambil 5 kaleng sarden dan memasukkannya ke dalam troli. Hari ini aku berbelanja untuk kehidupanku yang baru. Kalau dulu aku selalu mengambil barang seenaknya dan memasukkannya di troli, tapi sekarang aku harus melihat harganya baru setelah itu menentukan apa akan membelinya atau tidak. Dulu aku selalu membeli sekotak coklat, sekaleng permen, dan berbungkus-bungkus snack, tapi sekarang ketiga hal itu harus ku hilangkan.

Aku sampai di kasir dan menaruh barang di tempatnya, Si tukang kasir mengitung belanjaanku. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Toko ini lumayan sepi, padahal barang-barangnya murah. Aku melihat jumlah di monitor. “Dua puluh ribu won?”. Aku kasih uang yang diminta, lalu keluar dari toko sambil mengangkat kantong belanja.

……….

Ada gadis yang masuk ke toko kami. Hal itu sangat aneh. Soalnya jarang sekali ada gadis yang masuk ke toko murah dan kusam seperti toko kami. Aku melihatnya memilih-milih barang, melihat harganya dan mencari yang termurah. “Wanita yang hemat”, begitulah kesan pertamaku terhadapnya.

Aku buru-buru berdiri di depan kasir, ku rapikan kemeja kusamku dan tersenyum ramah padanya. Tapi sepertinya dia tidak melihat, matanya langsung menunduk ke troli dan meletakkan barang-barang tersebut di depanku. Aku berusaha tenang sambil menghitung belanjaannya. Ternyata benar dugaanku, semua barang yang dibelinya hari ini adalah barang termurah. Aku sudah selesai menghitung dan menunjukkan jumlahnya pada gadis itu. Saat ia menyerahkan uang, tidak disengaja tangan kami bersentuhan. Jantungku berdegup kencang, tapi dia cuek sekali.

Saat dia pergi dengan kantong belanjaannya, aku tersenyum. Uang yang dia beri tadi akan aku jadikan jimat. Semoga nanti aku bisa bertemu lagi dengannya, wahai gadis hemat.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s