Goodbye and Hello

Author : Lee Dantae or Shimeunkyung

Annyeong ^^

Author yang imut ini balik lagi, (huweeeek) :p

FF ini pernah saya publish di SMTownfanfiction

Kali ini saya buat FF persahabatan lagi, dan lagi-lagi tokoh utamanya Member tercantik KIM HEECHUL, hehe

FF ini sekaligus menyadarkan teman2 ELF yang masih berharap Hankyung akan kembali. Teman, Oppa kita yang satu itu tidak akan kembali.Dia sudah terlalu sibuk dengan urusannya. Dan kita sebagai ELF harus mendukung setiap keputusan Oppakita  tersayang..

OK! Kalau yang ga setuju sama pendapat saya, Mianhae.. Ini cuma pikiran saya aja kok,hehe

Heechul POV

Kalau perasaan itu masih ada sampai sekarang, tidak apa-apa kan? Aku hanya berharap kau bisa kembali ke sini. Aku ingin kita bersama lagi. Kau tahu hanya kau yang selalu aku pikirkan. Tidak peduli sudah berapa lama kita terpisah,  meski sudah 2 tahun lamanya, aku tetap merindukanmu. Harapanku untuk melihatmu lagi bertambah besar. Sangat besar.

……………

Hankyung POV

Sudah dua tahun aku pergi meninggalkan mereka. Rasa rindu itu masih ada. Ingatan tentang mereka tetap setia mendampingiku dikala aku sedih. Kadang aku berharap mereka ada disini. Kadang aku berkhayal mereka ada disampingku, bersamaku, meski aku tidak bisa bicara baik dengan mereka, tapi setidaknya kalau mereka ada, mungkin perasaanku akan membaik. Aku rindu melihat tawanya, caciannya saat dia marah, kegilaannya pada wonder girls, lalu juga kecintaannya pada warna pink. Aku merindukannya, merindukan semua hal tentang dirinya. Tuhan, izinkan aku melihatnya lagi. Izinkan aku memeluknya lagi, memasakkan makanan untuknya dan juga menemaninya saat dia tidak bisa tidur di malam hari. Cukup sehari saja Tuhan. Apakah harapanmu sangat muluk, Tuhan? Apakah masih bisa hal itu terulang lagi di masa depan?

……………

Heechul POV

Kembali ke Cina dengan perasaan hampa. Hari ini supershow ke 3 akan dimulai. Lima belas menit lagi kami akan tampil. Kali ini Henry dan Zhoumi juga datang. Maafkan aku Henry, Zhoumi. Bukannya aku tidak mau menyapa kalian. Tapi kalau melihat kalian mengobrol dengan bahasa cina, hal itu membuatku teringat lagi padanya. Dan aku tidak mau teringat lagi, setidaknya tidak untuk sekarang. Aku ingin supershow hari ini sukses.

……………

Hankyung POV

Aku duduk diam di depan laptop. Mataku menatap layar yang menampilkan video-video tentang mereka. Hahaha,, terlalu banyak hal yang sudah berubah sejak aku pergi. Dari gaya tatanan rambut, tato Sungmin, rambut baru Yesung dan Hyukkie,dan juga wajib militer. Maret sebentar lagi usai. Dan dia akan pergi untuk memenuhi kewajibannya. Apakah aku bisa melihatnya untuk terakhir kali? Dua tahun tidak bertemu sejak aku pergi, terus ditambah lagi dua tahun kalau dia jadi masuk wamil. Jadi aku harus menunggu selama empat tahun? Apa bisa? Iya kalau aku masih hidup. Tapi kalau tidak, bagaimana?

………….

Heechul POV

Lampu gemerlap khas konsert menyapu semua sudut gedung. Aku duduk di kursi kedua dari pinggir kanan. Sebentar lagi kami akan menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang membuatku mengingat dirinya.

Musik sudah mengalun. Kali ini aku tidak bisa menghentikan tangisku. Aku terlalu merindukannya. Hankyung, sahabatku, andai kau ada di sini bersamaku.

Shining Star, like a little diamond

Make me love…

“Hankyungie,, kembalilah”, bisikku pelan.

……………

“Aku duduk tepat disamping Hyung. Dari awal dia memang sudah murung. Tapi aku tidak mengira kalau dia akan menangis dan mengucapkan namanya”, Zhoumi menjelaskan kejadian sebelum Heechul pingsan di konser. Kesebelas member lain menarik nafas.

“Setelah itu dia tiba-tiba pingsan. Mian Hyung, aku tidak sempat menangkap tubuhnya. Andai tadi aku cepat tanggap, pasti tidak akan terjadi seperti ini”, Zhoumi menunduk dalam, Leeteuk menghela nafas dan tidak bersuara. Masalah ini terlalu rumit dan menjadi sangat rumit sekarang. Kesebelas member duduk melingkar di dalam ruangan di salah satu kamar di Rumah Sakit di Cina. Heechul terbaring di tempat tidur, kepalanya diperban dan mukanya tergores. Tangan kirinya digips karena retak. Leeteuk sendiri merinding kalau ingat bagaimana cara jatuh Heechul. Ia tidak mau dan tidak pernah berharap Heechul akan jatuh.

“Dia tidak menjawab Hyung. Aissh! Apa dia belum tahu soal ini jangan-jangan?”, Siwon yang sedari tadi menelpon Hankyung mendecak kesal. “Apa aku harus ke rumahnya Hyung? Ah iya, aku jemput paksa saja”, Siwon beranjak berdiri, tapi lengannya ditahan Sungmin.

“Percuma. Belum tentu sekarang dia di rumah. Hankyung Hyung itu sekarang sedang sibuk. Aku baca di internet kemarin dia syuting di Taiwan”, kata Sungmin panjang lebar, Siwon kembali duduk.

“Terus bagaimana?”, tanya Siwon frustasi.

Kyuhyun diam, matanya sibuk memandang keluar jendela rumah sakit. Ia berdiri dan berjalan menghadap jendela. “Mereka masih di sana, Hyung. Wartawan, ELF, dan juga staff SM”, kata Kyuhyun.

Leeteuk menghela nafas lagi. “Wartawan, fans, bahkan sudah banyak yang tahu tentang ini. Masa dia belum tahu juga?”

……………

Hankyung POV

Aku terbangun dengan mimpi buruk. Aku mimpi mataku dibutakan oleh seseorang, dan ada Heechul dengan pakaian serba putih. Ada apa ini?

Aku berjalan keluar kamar, mama menyambut dengan tangan berkacak pinggang. Aku menyipitkan mata. Wajah mama sangat sedih dan ada kekhawatiran di sana. Mataku melihat sesuatu di meja. Sebuah koran?

“Tidur nyenyak malam tadi?”, tanya mama. Aku mengangguk. “Mandilah dulu Hangeng. Pagi ini kita harus menjenguk seseorang”, mama menyampirkan handuk ke tanganku.

“Siapa, Ma?”, tanyaku saat sudah di dalam kamar mandi.

“………”

“Ma?”, tanyaku sekai lagi.

“Nanti kau juga tahu”, jawab Mama singkat.

………

Jangan katakan hal ini adalah kenyataan. Jangan ada yang bilang ini kenyataan. Aku tidak mau. Ini pasti hanya mimpi. Tapi, aku bisa merasakan tangannya yang dingin. Aku bisa melihat mukanya yang pucat dan perban di kepalanya.

“Dia jatuh saat konser. Kebetulan waktu itu dia duduk agak di pinggir panggung yang tinggi”, kata Leeteuk Hyung.

“Sebelum dia pingsan, dia menyebutkan namamu Gege”

Aku terdiam. Hati ini merasa terkoyak. Ingin rasanya mengganti dirinya yang terbaring di kasur.

“Dokter bilang apa? Dia baik-baik saja kan?”, tanyaku pelan. Aku mendengar helaan nafas dari semua member. “Dia baik-baik saja kan?”, tanyaku lagi.

“Gegar otak berat. Hidung patah, dan harus dioperasi. Tangan kiri retak dan mukanya tergores. Apa itu bisa dibilang baik-baik saja, Hyung?”, tanya Kyuhyun sinis. Aku tidak menjawab. Separah itukah dia sekarang?

“Hal baik yang bisa kita ambil, jadwal wajib militernya tertunda. Hal buruknya? Kemungkinan dia tidak ikut ambil bagian di album kelima”, kata Ryeowook. “Apa ini bisa dibilang keberuntungan atau justru musibah? Aku rasa ini adalah musibah kalau Hyung tidak mau bertanggung jawab”

“WOOKIE! Diam ! sekarang bukan saatnya membahas masalah itu!”, bentak Leeteuk.

“Wae? Ini semua terjadi karena dia! Dia yang harus disalahkan!”, Ryeowook membela diri.

“Ini bukan salah Hankyung! Ini murni kecerobohan Heechul. Kau diam saja! Jangan menambah bara ke dalam api!”, bentak Leeteuk Hyung lagi. Aku menunduk sedih.

“Ne! Memang ini karena kecerobohan Heechul Hyung. Tapi kalau dia tidak pergi, ini tidak akan terjadi Hyung! Kenapa Hyung malah membelanya????”, Ryeowook keluar dari kamar,, membanting pintu dengan keras.

Ruangan menjadi hening kembali. Hanya suara nafas teratur dari Heechul yang kedengaran.

“Mianhae.. Hyung jangan membentak Wookie. Wajar dia marah. Hyung juga berhak marah padaku”

“Aniya… marah itu tidak ada gunanya”, Leader yang kukagumi itu sangat bijaksana, bahkan disaat kritis seperti sekarang.  “Kami keluar dulu Kyungie. Aku rasa kau butuh waktu berdua dengan Heechul”. Tak lama kemudian, mereka semua pergi. Tinggal aku berdua dengan Heechul yang tidur. Aku pandangi wajahnya, hidungnya yang ditutup dengan kapas. Tanganku bergerak membelai rambutnya yang dipotong pendek

“Aku memang ingin bertemu denganmu, Chullie. Tapi, bukan dengan jalan seperti ini. Bangunlah Chulie. Bangunlah,, aku ada di sini”

……………

Matahari pagi menyambutku. Aku menggeliat pelan. Menguap lalu berjalan ke jendela. Ku sibak tirai jendela berwarna peach itu. Keindahan warna dipagi hari menyambutku. Tapi hari ini aku tidak bisa senang atau tersenyum saat melihat matahari.

Badanku berbalik ke belakang. Menghadap sosoknya yang masih tidur. “Belum bangun juga ya?”, aku duduk disamping tempat tidur, tanganku menggenggam tangannya yang diinfus. “Chullie,, bangunlah.. Buka matamu, lihat, aku ada di sini..”

Ku lihat mata Heechul bergerak, “Kim Heechul? Kau sudah sadar?”

Aku tersenyum senang saat melihat matanya terbuka. Mata Heechul mengerjap-ngerjap, lalu ketika matanya melihatku, segera senyum pucat terlukis di wajahnya.

“Hai,, senangnya kau datang melihatku”, ia mencoba melucu, bahkan di saat seperti ini. Aku menundukkan kepala dalam-dalam.

“Han? Wae?”

Tidak Kim Heechul, aku ingin kau marah padaku sekarang.

“Menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian ini? Babo!”, katanya.

“Mianhe…”, aku Cuma bisa minta maaf.

“Peluk aku! Aku masih tidak percaya kalau kau nyata.. Peluk aku, Kyungie”, katanya lemah. Aku mengangkat tubuhnya pelan, tangannya merangkul leherku. “Ini benar… ini kenyataan.. Tuhan,, terimakasih…”, Chullie memelukku erat, bahunya bergetar karena tangis.

“Iya kita harus berterimakasih pada Tuhan, karena-Nya kita bisa bertemu lagi”

Heechul mengendurkan pelukannya dan menatapku. Aku melihat sorot matanya.

“Cinderella, tidak akan. Dan tidak bisa lagi. Mianhae…”, aku rasa dia pasti mengerti dengan kalimatku tadi. Heechul melepas pelukannya dan menatapku tajam.

“Aku bahkan belum bilang satu patah kata pun. Tapi kau sudah bilang tidak bisa. Apa salahnya pulang lagi? Kami semua akan menerimamu..”, pintanya. Jujur, aku ingin sekali memenuhi permintaannya.

“Heechul, kita bicarakan hal ini setelah kau sudah mendingan”, aku beranjak dari duduk, tapi Heechul menahan lenganku.

“Mau pergi ke mana? Pembicaraan kita belum selesai”, suaranya begitu tenang, namun membuatku ingin menangis.

Aku lepas tangannya dari tanganku. “Heechul, tolong patuhi satu permintaanku. Kita akan bicara lagi setelah kau sembuh”

Kim Heechul POV

“Kita akan bicara lagi setelah kau sembuh”, aku mengulang kalimat yang Hankyung lontarkan beberapa hari yang lalu. Ku lihat Siwon menghela nafas kecewa.

“Kalau begini, sudah jelas akhirnya bagaimana..”, ucap Yesung, raut mukanya terlihat kecewa.

Ku tekuk kedua kakiku dan menyembunyikan kepalaku diantaranya. “Sepertinya iya”.

“Hyung…”, panggil Siwon. Aku tidak mendongak. Rasanya sangat memalukan menangis lagi di depan Siwon, seperti mengulang saat-saat aku depresi dulu. “Dengarkan aku Hyung. Ini bukan nasihat dariku. Tapi Hyung, percayalah, bahwa di setiap kata ‘Hello’ itu ada ‘Good Bye’. Di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi, meski perpisahan itu terjadi, meski kita tidak bersama lagi, kenangan kita selama beberapa tahun lamanya akan tetap tersimpan di sini”, Siwon menunjuk hatiku dengan tangannya.

“Aku rasa itulah yang ingin dikatakan Hankyung Hyung nantinya… Hyung terimalah. Ikhlaskan dia. Lagipula tidak menjadi superjunior, bukan berarti tidak bisa bertemu bukan?”, senyum Siwon saat itu sangat lembut dan bijaksana, aku merasa pertahan diriku telah runtuh. Ku tumpahkan semua tangis, kesal, dan kecewaku pada Siwon.

Hankyung POV

Di kamar rawat Heechul.

Di sini aku bersama mereka, keluargaku yang sangat berharga. Aku tatap wajah mereka satu per satu. Dari leader sampai maknae. Wajah mereka sekarang akan kuingat untuk selamanya.

“Hyung, bicaralah… Yang kami tunggu adalah keputusan Hyung”, kata Donghae menyadarkanku. Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.

“Aku senang kalian mengunjungiku hari ini. Rasanya senang sekali. Tapi…”

Telingaku menangkap suara isakan dari sudut, ku lihat Ryeowook sudah menangis. “Mianhae, aku tidak bisa kembali lagi. Itu adalah keputusanku”

Tangisan Ryeowook sekarang disusul oleh tangisan Donghae. Aku menyesal membuat mereka menangis. tapi aku tetap tidak bisa.

“Sejujurnya, aku juga ingin kita bersama. Meraih penghargaan, menari bersama, bernyanyi dibawah nama Super Junior. Tapi, itu dulu. Waktu sudah berubah. Dan kita telah tumbuh dewasa. aku senang sekali mendengar kalian sekarang sangat terkenal. Cinta ELF semakin bertambah. Aku bangga pernah tinggal dengan orang sehebat kalian”

“Kami juga… Sangat bangga bisa serumah dengan penari terbaik di dunia..”, sahut Yesung. Ku balas dengan senyuman.

“Aku senang kita pernah melewati masa yang panjang. Bersama-sama melewati kesusahan, meniti karir dari nol, mengisi perut kosong saat traine, melalui 4 musim dengan hati yang penuh luapan gembira. Aku bahagia. Dan tentu saja di dalam hati, aku ingin kita terus bersama. Tapi tidak ada yang namanya abadi”

Aku berhenti sejenak. Air mataku hampir menetes kalau tidak cepat-cepat ku tahan. Aku tidak ingin menangis di depan mereka. Aku ingin melepaskan mereka dengan senyuman.

“Dulu aku kira ketika kita berjalan bersama, kita akan terus bersama-sama. Tapi ternyata, dari awal, tapak yang kita lalui sangat berbeda. Maka daripada itu, akhirnya kita juga melalui hal-hal yang berbeda. Siwon yang memang penerus perusahaan, Yesung dengan suara indahnya, Leeteuk Hyung dengan jiwa pembawa acaranya, Kibum dengan dunia actingnya, dan di sini aku dengan tarianku”

Isakan-isakan lain terdengar. Aku minta maaf telah buat kalian menangis lagi.

“Langkah awal yang kita ambil berbeda-beda. Maka hasil akhirnya juga berbeda. Tapi, bukan berarti beda itu tidak bertemu, bukan berarti beda itu pisah selamanya. Tapi berbeda itu adalah keunikan kita. Dan itulah dunia kita nantinya…”

Aku melihat Heechul menundukkan kepalanya.

“Dan sekarang waktu itu sudah tiba. Tanda kalau dunia kita sudah berbeda. Hyungdeul, Dongsaengdeul… Aku bahagia kalian ingin aku kembali tapi aku tidak bisa. Aku ingin mengejar mimpi yang belum ku raih.  Aku merasa inilah saatnya. Selama ini aku terus menunda-nunda untuk pergi, karena aku ingin tetap bersama kalian. Tapi pecahnya TVXQ,  sifat fokus Kibum pada dunia acting, aku jadi ingin seperti mereka. Mengejar cita-citaku”

Tolong mengertilah..

“Pergilah, aku mengerti Kyungie…”, kata Leeteuk. Aku tatap matanya, mata itu balas menatapku, teduh dan sangat menenangkan.

“Aku juga mengerti.. Pergilah Hyung, kalau memang itu maumu”, kata Shindong. Si gempul itu menatapku dengan linangan air mata.

“Pergilah… Aku akan ikhlas..”

Suara ini? Heechul? Kini ia duduk menghadapku. Matanya memerah karena terlalu banyak menangis. “Aku mengerti. Maafkan aku yang sudah egois menahanmu. Padahal kau punya mimpi yang sangat indah”

“Seperti kata Siwon, di setiap kata ‘Hello’ pasti ada ‘Good Bye’.  Di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku yakin, meski sekarang kita berpisah, kita pasti akan bertemu lagi. Lalu, kenangan selama kita bersama, akan aku ingat terus, akan ku simpan, ku jaga karena itu adalah harta yang paling berharga”, kata Heechul.

“Ne, lagipula perpisahan belum berarti tidak bertemu selamanya. Kita akan bertemu lagi nanti. Di tempat dan waktu yang berbeda”, kataku.

Kami berpelukan erat. Kini keluargaku itu mengerti dan ikhlas melepasku. Tenanglah teman, hari ini akan diingat selalu. Lalu di saat nanti kita bertemu lagi, kita akan bawa berita baru, kita juga akan buat kenangan yang baru. Aku percaya itu..

Advertisements

2 comments on “Goodbye and Hello

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s