You’re Our Angel, Sungmin

Cerita di FF ini fiksi belaka. Ini hanyalah imajinasi Author..

Sungmin POV

Kenapa sekarang situasinya ga enak gini? Aku tidak pernah membayangkan hubungan kita berdua akan sekacau ini. Kau tidak pernah main ke kamarku lagi.. Aku merasa, aku adalah sahabat yang sangat buruk. Bahkan terlalu buruk sampai membuatmu jauh dariku.

Ku ketuk lagi pintu kamarmu, sayup-sayup aku mendengar suara lagu dari laptopmu. Tapi sama seperti kemarin-kemarin. Kau Tidak pernah membuka pintu. Aku masih diam di depan pintu kamarmu, berharap kau akan membuka pintu. Meski dengan muka pucat sekalipun, aku ingin melihat kondisimu. Apa persahabatan kita hanya sebatas berbagi kebahagiaan? Aku ingin kau cerita padaku, cerita apa yang terjadi padamu.

Sekali lagi ku ketuk pintu kamarmu, tapi jawabannya masih sama. Pintu itu tidak membuka sedikitpun, bahkan panggilanku tidak kau jawab. Kenapa Kyuhyun-ah? Ada apa?

“Baiklah, ini yang terakhir. Kalau masih tidak dibuka, selamanya aku tidak akan pergi ke sini lagi”, ucapku dalam hati. Hana…Dul…Set..

TOK…TOK..TOK..

Aku menghitung angka dari  1 sampai 10. Tapi sampai hitungan terakhir, kau masih sama, diam membisu di dalam kamar.

“Oke.. Silahkan membusuk di dalam sana. Aku tidak pernah memaksa seseorang bercerita. Tapi, aku minta maaf. Di saat kau seperti ini aku tidak bisa diandalkan. Mianhe Kyunnie…”, kataku. Aku yakin kau mendengar ucapanku tadi Kyuhyun. Tapi kenapa tidak kau buka juga?

Aku kembali naik ke dorm atas. Ku rebahkan diri di atas kasur.

“Hyung, Waeyo? Gwenchanasumnikka??”, tanya Ryeowook. Shindong dan Eunhyuk ikut masuk kamar.

“Aniyo… Nan gwenchanayo”, aku tersenyum, berusaha meyakinkan mereka. Tapi Shindong, Ryeowook, dan Eunhyuk menatapku intens.

“Hyung, apa kau juga mau bersikap seperti Kyuhyun? Berusaha terlihat baik? Kau tidak percaya pada kami lagi?”, tanya Shindong.  Aku menunduk, bingung harus bagaimana menjawab mereka.

“Eolmana? Berapa lama kau akan begini? Apa akan seperti Kyuhyun?”, tanya Eunhyuk, sahabatku ini menggenggam tanganku. “Lihat.. Kau bahkan sudah tidak melihatku lagi. Apa kita bukan sahabat lagi Hyung? Kau..”

“ANIYO!”, aku menyela ucapan mereka. Ku tarik nafas dalam-dalam. “Bantu aku. Tolong..”

Setelah itu mereka tersenyum dan merangkulku. “Kyuhyun, aku tidak tau apa masalah dia. Tapi melihat dia tidak keluar dari kamar, tidak ikut latihan, tidak menjawab telpon dan sms.. Aku jadi kahwatir”, ucapku, Eunhyuk meremas kuat bahuku. Senyumnya juga sama khawatirnya, keadaan Kyuhyun ini terus membuat kami khawatir.

“Dia itu selalu memendam semuanya sendiri. Tapi Hyung, bagaimana kami bisa bantu? Orang terdekat Kyuhyun itu kamu. Kami Cuma teman biasa, aku belum,, aniyo,, aku tidak pernah curhat ke dia”, Ryeowook memilin-milin sarung bantal. Ku tatap Shindong, tapi dia mengedikkan bahu tanda tak tahu.

“Kyuhyun..”, aku menatap pemandangan di luar jendela. “Dia tipe orang yang akan cerita saat dia mau. Kalau memaksa, justru dia tidak akan cerita”, aku menunduk. Shindong, Ryeowook dan Eunhyuk masih diam. Mungkin mereka juga tidak tahu harus bilang apa.

“Dia… Hufff…”, aku menarik nafas, rasanya sesak sekali. “Mianhae.. Tapi aku sudah putuskan, aku tidak akan ke kamarnya sebelum dia yang ke kamarku. Aku ….”

“Jinjja? Setega itu kah?”, tanya Eunhyuk tiba-tiba. “Aku tau kau pasti pusing karena sikapnya. Tapi Hyung, kalau kau bersikap seperti itu, dia tidak akan keluar dari kamar”

“Lalu aku harus bagaimana?” aku berteriak frustasi. “Dia yang justru tidak mau diperhatikan. Dia yang tidak jawab telponku. Dia tidak pernah mengangkat panggilan. Bahkan aku ketuk kamarnya pun percuma!!”, air mataku mulai mengalir. “Aku merasa aku adalah sahabat yang gagal”. Semuanya terdiam.

“Lalu…”

“Kita harus menunggunya?”, tanya Shindong, ia ragu sendiri dengan kata ‘menunggu’.

“Cuma itu yang bisa kita lakukan”, ucapku putus asa.

…………

Sudah 2 minggu tepat, Kyuhyun hanya sesekali keluar kamar. Tapi hanya sebentar. Sekedar memasak mie instan atau mengambil air minum. Lalu setelah itu dia akan kembali berdiam diri di kamarnya. Aku dan Hyung lainnya merasa jadi tidak berguna. Kyuhyun, namja itu tidak pernah menyapa kami lagi.

Malam ini, sehabis perfomance, Kyuhyun menjauh dari kami. Ia duduk di pojok mobil, memainkan pspnya. Tapi aku tahu, dia tidak serius saat itu. Matanya kosong, dan tangannya tidak bergerak selincah dulu. Aku duduk diam di dalam mobil, begitu juga Hyung yang lain. Menurut kami, hanya waktulah yang bisa membuatnya berubah.

…………

“AAAAAAAaaaa…”

Aku menoleh cepat. Teriakan tadi? Shindong langsung berdiri dari duduknya dan berlari ke kamar Kyuhyun.

“Sial! Dikunci “, teriak Shindong. Aku berhenti berlari, nafasku terengah-engah.

Perlahan, aku berdiri di depan kamar Kyuhyun. Ku ketuk pintu kamarnya. “Kyu… Ini Hyung. Buka pintunya”

AJAIB! Tiba-tiba Kyuhyun membuka pintu, dan menarikku ke dalam kamar. Pintunya langsung dikunci, sepertinya Kyuhyun hanya ingin cerita denganku saja.

Mataku menyusuri sudut kamarnya. Kamar ini sangat berantakan. Gelas,piring, sumpit, psp, baju, semuanya berserakan di lantai dan di meja belajar. Aku terkesiap saat melihat wajah Kyuhyun. Matanya bengkak dan wajahnya sembab.

“Kyu? Waeyo?”, ku pegang kedua pipinya,tiba-tiba  ia langsung memelukku. Tangisnya pecah. “Kyu…Ada apa?”. Kyuhyun makin erat memelukku, tangisnya lebih keras dari yang tadi.

…………

Aku duduk diam menunggu Kyuhyun tidur. Ia seperti anak kecil sekarang, tidak mau aku pergi satu centimeter saja. Aku mengelus rambutnya pelan, ia menggeliat pelan di atas pahaku. Kakinya meringkuk semakin dalam.

Aku masih teringat ceritanya tadi. Ternyata, kyuhyun yang kami kira pemberani itu, bisa punya hati yang sensitif juga. Orangtua bercerai? Aku tidak pernah punya pikiran negatif tentang orangtua Kyuhyun. Mereka berdua terlihat baik-baik saja, Ahra Noona juga begitu. Tapi tadi dari cerita Kyuhyun, Ahjusshi dan Ahjumma sudah pisah rumah.

“Kau harus sabar Kyu.. Aku yakin, Tuhan memberikan cobaan ini, karena kau mampu.. Selagi kau sesak dan tidak mampu menampung semuanya, masih ada kami di sini. Kami akan selalu mendukungmu. Bagilah bebanmu, biar bahumu terasa ringan lagi”, ku seka air mata di wajah Kyuhyun, sosoknya kini begitu lemah. Pikirannya penuh dengan masalah perceraian.

“Jangan begini lagi.. Ceritakan saja semuanya. Karena kita adalah sahabat”, ucapku sebelum menarik selimut dan tidur bersender di dinding tempat tidur.

Tanpa sepengetahuan Sungmin, air mata Kyuhyun keluar lagi. Ia merasa terharu dengan ucapan Hyungnya.

“Gomawoo… Jeongmal Gomawo…”, ucap Kyu dalam hati, tangannya menggenggam erat tangan Sungmin Hyung.

……….

Author POV

Sahabat

Ingatlah, aku bukan hanya teman berbagi kebahagiaan

Kita sahabat, bukan karena aku ingin mengambil keuntungan

Kita sahabat, karena kita saling membutuhkan

Kau, aku , dan yang lain..

Bagilah masalahmu agar kami tahu

Jangan dipendam, jangan dibawa sendiri

Bercerita akan membuat perasaan jadi tenang bukan?

Aku selalu ada untuk mendengar keluhanmu..

^FIGHTING KYUHYUN^

Kyuhyun terpaku membaca notes yang ditinggalkan Sungmin. Pagi ini, Sungmin sudah berangkat ke KBS untuk variety show. Hidung Kyuhyun mencium harum masakan. Tepat di dekat piano, ada semangkuk bubur dan jajangmyeon. Kyuhyun mengaduk bubur itu dengan sendok, senyum merekah di wajahnya.

“Apa ini?”, Kyuhyun mengambil selembar notes di dekat piano.

Makanlah yang banyak

Kau perlu tenaga yang cukup untuk bercerita padaku

Aku akan pulang setelah syuting

Jangan lupa mandi, Kyunnie

Saranghae

^Pumpkin Hyung^

Kyuhyun merasa terharu. Sungmin Hyung tahu bagaimana membuat hatinya merasa tenang kembali. Tak lama kemudian, Kyuhyun sudah menyantap bubur itu dengan tangisan di pipinya.

“Gomawo Hyung…”, ucap Kyuhyun sambil makan bubur.

Setelah makan, Kyuhyun berbaring lagi kasurnya. Ia lagi-lagi terkejut. Di balik bantalnya ada selembar notes. Tawanya meledak saat membaca notes dari Sungmin Hyung

YAA!! Kau mau tidur setelah makan?

Dasar babi! Hahaha :p

Cepat mandi sana. Aku sudah siapkan air hangat, aroma terapi juga yang lainnya

Cepat gunakan sebelum airnya jadi dingin. Arasseo?!!

Kalau kau masih tidur juga, kau akan kupanggil babi! Hahaha :p

^Aegyo Sungmin^

Kyuhyun segera beranjak dari kasurnya dan masuk ke kamar mandi. Dia tersenyum melihat bathub sudah terisi air hangat. Sungmin adalah sahabat yang baik. Pelan-pelan Kyuhyun mencium air di bathub. “Apel?”, tanya Kyuhyun pada diri sendiri. “Darimana dia tahu aku suka apel?”, belum selesai kejutan dari Sungmin, Kyuhyun sudah diberi hal baru lagi. Ada notes di atas bebek-bebek-kan. Tangan Kyuhyun membuka notes yang dilipat menjadi segitiga..

Kau senang kan? Aku sudah bersusah payah bagun pagi untuk membuat ini

Jadi kau harus segera mandi. Kelak Airnya akan semakin dingin

Ah, iya.. Kau heran kenapa aku tahu kau suka apel?

Jawabannya Cuma satu,,

Omma mu pernah bilang padaku kalau kau suka apel..

Apa kau mau menangis lagi?

Kyunnie, jangan menangis lagi

Kasihan air apel ini jadi ternoda dengan air matamu

Berendamlah yang lama, aku dengar itu bagus untuk kesehatan

^Uri Kyuhyun,, FIGHTING! ^

Air mata Kyuhyun kembali menggenang. Bagaimanapun juga, Sungmin Hyung tetap membuat dia berpikir positif tentang perceraian orangtuanya. Kyuhyun tidak menunggu lama lagi, ia segera berendam di dalam bathub. Ada rasa segar, semua bebannya menjadi hilang.

“Berapa kali aku harus bilang terimakasih? Aku rasa seribu kali pun tidak cukup. Kau terlalu mengerti aku, Hyung.. Gomapta”, kata Kyuhyun dengan senyum bahagia di wajahnya.

Setelah Kyuhyun berendam, ia berjalan ke lemari. Tapi lagi-lagi ada notes di sana. Kyuhyun tersenyum membaca isi notes itu

Sudah selesai berendamnya? Kalau begitu, pakai baju yang sudah kupilihkan

Aku sudah menaruhnya di meja belajar

Kyuhyun berjalan menuju meja belajar. Ada baju hangat dan celana panjang berwarna abu-abu. Saat Kyuhyun mau memakai baju, ada notes yang terjatuh dari dalam baju itu. Lagi dan lagi, senyum manis tercetak di wajah tirus dan pucat itu.

Anak pintar ^^

Kalau sudah pakai baju, kau keluar yaa

Lihat teras rumah, ada sesuatu di sana

Kyuhyun terpaku saat sudah di teras. Kedua orangtuanya dan Ahra Noona duduk melingkari sebuah meja. Kyuhyun tidak melangkah namun tidak juga mundur.

“Appa? Omma? Noona?”, tanya Kyuhyun, matanya beralih dari Appa, Omma dan Ahra Noona. Tiga orang yang disebut mengangguk pelan.

Tanpa banyak bicara, Omma langsung memeluk anak lelakinya yang tampak terkejut itu. “Mianhae Hyunnie… Maafkan Ibumu ini..”, bahu ibunya bergetar karena menangis.

Abouji dan Noona hanya melihat dari kursi. Dari jauh saja, mereka bisa melihat wajah namja itu semakin tirus dan pucat. Bibirnya pecah-pecah, dan ada kantung mata. Hati orangtua mana yang tidak terenyuh saat melihat anaknya menjadi stress karena masalah mereka.

Sementara itu, dari kejauhan, Eunhyuk Hyung melihat pemandangan itu dengan penuh haru.

“Berterimakasihlah pada Sungmin Hyung. Dia yang sudah merencanakan ini semua Kyunnie. Demi dirimu, dia rela tidak tidur semalaman”, bisik Eunhyuk. Tentu saja ucapannya tadi tidak akan terdengar.

“Sungmin Hyung, apa kau malaikat dari surga?”, Eunhyuk menghapus air mata dari pipinya. Diam-diam diambilnya potret keluarga yang sedang menangis terharu itu.

“ini akan jadi kado untuk ulang tahun Sungmin Hyung nanti..”, kata Eunhyuk senang.

“Hari ini aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran yang tidak pernah ada di buku manapun.. Terimakasih Sungmin Hyung…Malaikat surga kami..”

Ahra Noona duduk saja di kursinya. Di sampingnya, sosok pria tua yang biasanya kuat itu kini terlihat sangat lemah. Air mata tidak pernah berhenti bergulir dari pipinya. Ahra Noona menggigit bibirnya. “Masalah ini bahkan tidak bisa Appa pecahkan sendiri. Kita malah butuh bantuan orang lain”, kata Ahra dingin. Abouji mendongak dan air matanya semakin deras.

“Kau harus menyesal karena membuat dia menjadi begitu.. Sekali lagi Kyuhyun jadi stress begitu karena Appa, aku tidak akan menganggap Appa adalah Appa kandungku lagi”, kata Ahra tegas. Wajahnya begitu datar saat mengucapkan kalimat pedas itu.

“Kau?..”, Appa hampir marah, tapi beliau sadar, percuma memarahi anaknya. “Perasaan orangtua tidak akan dimengerti oleh anak kecil”

“Salah!”, tolak Ahra dingin. “Appa yang egois! Appa tidak pernah memikirkan kami. Hanya bisnis, bisnis dan bisnis. Kau kira uangmu bisa membuat kami senang?”, Ahra bangkit dari duduknya dan menghambur ke pelukan Ommanya.

Ia peluk tubuh jangkung adiknya. Masalah ini terlalu berat dan rumit. Ayahnya tidak pernah sadar. Salah! Appa memang tidak punya hati lagi. Dia adalah ayah yang gagal, ucap Ahra dalam hati.

………..

“Noona? Kenapa kau bicara begitu?”, Sungmin kaget dengan ucapan Ahra Noona. Malam ini Sungmin datang menemui Ahra di cafe dekat apartemen. Ahra masih tetap dengan sikapnya, keras dan tidak bisa dibantah.

“Noona, aku boleh bilang sesuatu?”, tanya Sungmin hati-hati. Ahra tidak mengangguk atau menggeleng. “Kyuhyun itu, kalau aku lihat, dia mirip sekali dengan Ahjumma”, Sungmin menegak kopi di cangkirnya. Dalam sekejap kopi itu langsung habis. “Dan Noona, kau mirip sekali dengan Ahjusshi”, Sungmin melihat muka Ahra langsung pucat.

Mulut Ahra membulat. Baru saja Ahra mau protes, tapi Sungmin langsung memotong.

“Kalian sama-sama keras kepala, kau dan Ahjusshi. Kalian mirip sekali, terlalu sulit dibantah. Pikiran kalian , kalau aku boleh menyebutnya sedikit kasar, mungkin… Naif?”, raut wajah Sungmin sedih sekali. “Perceraian itu bukan akhir dari segalanya. Benar apa yang dibilang Ahjusshi, perasaan orang tua itu sulit untuk kita pahami..”, Sungmin masih berbicara, setiap kalimat yang dilontarkannya membuat Ahra makin tersudut.

“Kau berani bicara seperti itu karena kau tidak merasakannya”, Ahra mencoba melawan.

Sungmin tersenyum getir. “Kau hanya mencari celah kan? Benar, aku memang tidak merasakannya tapi Noona, apa yang aku katakan dari tadi itu semuanya benar. Baik Noona atau Ahjusshi, kalian berdua sebenarnya sangat mirip. Terlalu mirip, sampai tidak pernah menyadari bagaimana perasaan orang lain. Mungkin bisa disebuat dengan egois?”

Ahra tidak membalas. Sungmin kembali berbicara, “Kyuhyun sudah menerima perceraian ini dengan ikhlas. Jangan kau buat perasaan dia jadi kacau lagi.. Noona harus terima semuanya. Ikhlaskan saja. Aku yakin, ada hal baik dari peristiwa ini… Memang awalnya sakit, tapi kalau Noona serius dan sungguh-sungguh ikhlas, aku yakin nanti semuanya akan baik-baik saja. Senyum Kyuhyun, tawa Ahjumma, gurauan Ahjusshi dan… senyum cerahmu akan kembali lagi”, kata Sungmin bijaksana, Sungmin melemparkan pandangannya saat melihat air mata jatuh ke tangan Ahra.

Ahra terdiam, air matanya sudah menetes sejak tadi. “A-Apa kau malaikat?”, tanya Ahra pelan. Sungmin menggeleng.

“Kau lebih bijaksana dariku…”, Ahra masih terisak. “Sungminnie…”

“Ne?”

“Kamsahamnida..”

“Cheonmaneyo”

…………

Perceraian orangtua Kyuhyun sudah tersebar luas di kalangan publik. Untunglah Kyuhyun bisa melewati semuanya dengan tenang.  Ada Sungmin yang selalu membuatnya tenang dan berpikir positif. Ahra Noona juga lebih dewasa, ia sudah menerima perceraian orangtuanya dengan lapang dada.

“Uri Sungmin,, Apa kau malaikat?”, Ahra mengetik SMS dan mengirimnya pada Sungmin.

“Sungmin-ah.. Gomawo. Kau malaikat yang diturunkan dari surga untuk kami”, Ahjumma dan Ahjusshi mengetik SMS dan mengirimnya.

“Hyung,, aku tidak tahu harus berapa kali aku mengucapkan hal ini. Jeongmal Kamsahamnida… Kau sahabat terbaik yang aku punya. Tuhan sungguh baik sudah memberikan satu malaikatnya untukku”, Kyuhyun mengetik SMS di hanphonenya dan mengirimnya pada Sungmin.

“Picture… Send…”, Eunhyuk mengetik sebaris kalimat. “Uri Sungminnie, kau malaikat terbaik yang Tuhan berikan”, setelah mengirim SMS, Eunhyuk menengadah ke atas langit. “Lee Sungmin, gomapta.. jeongmal Gomawo..^^”

FIN

Advertisements

3 comments on “You’re Our Angel, Sungmin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s