Drabble : Secret Admirer being to boyfriend

Cho…kyu…hyun

Aku menghela nafas, nama itu sudah memenuhi bukuku. Aku membalik halaman, dan menulis nama itu lagi.

Tanganku menggores-gores kertas, menggambar hati yang besar, lalu menyelipkan namanya dan namaku.

Aku menghela nafas, mataku melihat gambar hati. Aku menggeleng kuat.

Dasar bodoh, mana mungkin dia menyukaimu Hyeri! Dia terlalu jauh untuk digapai.

—————

Kim….Hye…ri

Aku membaca berulang-ulang kali papan di depanku. Tapi tulisan itu tidak berubah. Bagaimana bisa? Dia kan….?

Aku berjalan keluar dari kerumunan. Masih tidak percaya dengan hal barusan.

“Hyeri!! Chukhae…”

Aku menoleh ke sumber suara, kulihat beberapa yeoja memeluknya. Ia terlihat kewalahan, tapi tetap senyum.

“Huwaa! Akhirnya lulus juga. Tapi tahun ini kau sendiri ya yang lulus?”

Hyeri mengangguk. Aku memutuskan berhenti melihatnya dan berjalan ke kafe. Kerumunan di depan papan makin bertambah.

Dia berubah… sangat berubah… Hyeri terlalu jauh untuk kuraih

…………

Aku melihatnya hari ini. Dia tampan sekali, dengan baju kaos putih dilapisi kemeja hitam, kulit putihnya makin membuatnya terlihat sempurna.

Cho Kyuhyun. Nama itu selalu memenuhi ruang kepalaku, membuatku sesak saat melihatnya, gugup setengah mati saat berpapasan dengannya.

“Hyeri!! Chukhae …”

Tiba-tiba aku dipeluk banyak orang. Aku jadi kikuk. Pasti mereka sudah melihat pengumuman itu.

“Huwaa! Akhirnya lulus juga. Tapi tahun ini kau sendiri ya yang lulus?”

Aku mengangguk.

“Senangnya bisa ke Perancis. Aku selalu bermimpi bisa ke sana…”.

Aku diam, tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba kulihat Kyuhyun menatapku dari jauh, refleks aku menoleh ke arah lain. Jantungku berdegup kencang. Sampai sekarang aku masih tidak bisa bersikap normal dihadapannya.

Saat aku mendongak, dia tidak ada lagi. Mataku mencarinya, tapi dia sudah hilang.

“Dapat beasiswa, terus semua biaya ditanggung orang. Akh.. benar-benar hidup yang sempurna. Ingat Hyeri! Kau harus mentraktir kami sekarang. Setidaknya ini wujud rasa syukurmu, hehe”

“Eh? Ne?”

“Traktir kami, ayolah….”, mereka menarikku ke kafe.

“Ah,, Mianhae..Hari ini aku harus ke kantor deplu”

“Ya! Nanti aku antar, sekarang traktir dulu”

Aku menghela nafas. Mereka memaksaku masuk ke kafe dan duduk di depan meja paling besar.

“Ahjumma… Kami mau pesan makanan”, mereka ribut sekali, aku diam saja memperhatikan tingkah laku mereka.

…………

Aku baru duduk sebentar di kafe saat mereka datang dan ribut memesan makanan. Aku melihat Hyeri, dia diam saja memandangi teman-temannya.

Kim Hyeri, yeoja baik hati yang lugu. Aku sudah lama mengenalnya, sejak awal kami masuk ke Universitas Kyunghee. Dari awal kenal, aku tau dia orang yang pendiam, tidak banyak bicara. Tindak tanduknya juga pelan dan hati-hati.

Tapi itu dulu, sekarang dia berubah. Tiba-tiba dia menjadi sosok yang sangat hangat, prestasinya juga meningkat pesat. Sekarang saja dia diterima beasiswa S2 di Perancis. Apa aku masih punya kesempatan untuk melindunginya?

………….

Aku akhirnya mengaku pada sahabatku, Ye Eun, kalau aku punya perasaan khusus pada Kyuhyun. Saat ini  mungkin adalah musim gugur terakhir bersama Kyuhyun. Aku tak mungkin lagi menyembunyikan perasaanku. Tapi aku juga wanita, aku tidak akan mengungkapkan perasaanku padanya. Jadi aku Cuma bisa cerita dengan sahabatku. Aku tahu aku salah. Perasaan yang dipendam  tidak ada gunanya.

“Hyeri, aku boleh memberi masukan?”

Aku menggeleng. “Tidak perlu Ye Eun, aku Cuma mau cerita. Aku juga tidak akan bilang hal ini padanya”

“Hyeri, Aku yakin Kyu pasti punya perasaan yang sama”

“Aniyo… Jangan kasih aku mimpi yang berlebihan Ye Eun. Aku ini bukan tipenya. Tipe dia itu yang cantik, langsing, punya kaki yang indah. Dan aku tidak punya sedikit saja dari hal-hal tadi. Aku Cuma pengagum rahasia”

“Bukan Hye, buka pengagum. Tapi pencinta. Kau mencintainya. Percayalah padaku. Kali ini aku yakin, kamu harus bilang perasaanmu padanya”

Aku menolak lagi, “Aku tidak akan lakukan hal itu. Kau tahu kan?”, aku tersenyum miris, nasib cintaku terlalu jelek.

“Hyeri…”, Ye Eun masih membujukku.

Aku menunduk, “Ye Eun, aku senang bisa menyukainya selama empat tahun. Aku bahagia, aku juga tidak akan melupakan perasaan saat senang melihatnya belajar di perpustakaan. Melihatnya makan dan tertawa. Aku akan menyimpan semuanya di dalam sini”, aku menunjuk dadaku. “Termasuk perasaan suka. Aku akan menyimpannya. Karena semua itu terlalu berharga untuk aku hapus”, tanpa kusadari air mataku menetes, Ye Eun memelukku.

“Uljima… Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Kalau memang ini yang kamu mau, Hye. Aku akan mendukungmu”

Aku mengangguk dalam dekapan sahabatku. “Gomawo Chingu”

……….

Hari ini cuaca terlalu dingin. Musim gugur tinggal 4 hari lagi. Lalu akan datang musim dingin.

“Hyeri, jangan lupakan aku ya…”, Ye Eun memelukku, mukanya merah menahan tangis. Aku balas memeluknya. Hari ini mungkin hari terakhir aku bisa melihatnya menangis untukku.

“Baik-baik di Paris sana. Jangan lupa makan. Terus juga jangan kecapekan, kau kan kalau capek langsung jatuh sakit. Lalu…”

Aku menepuk bahu Ye Eun. “Gwenchana…  Jangan khawatir. Aku pasti baik-baik saja”

Ye Eun menatapku, air matanya langsung tumpah. Aku juga ingin menangis. tapi aku harus tegar. “Aku pasti akan merindukanmu. Kau sahabat terbaikku Hyeri”

Aku tersenyum. “Gomawo. Kau juga sahabat terbaikku Ye Eun”

TENG …..TONG…..TENG…..TONG…..

Ye Eun melepas pelukannya dan memandangku. “Kau sepertinya sudah harus pergi”

“Ne, sepertinya iya”

Ye Eun memelukku sekali lagi. “Carilah namja yang baru disana. Lupakan dia. Aku yakin namja-namja di Paris lebih segar dan fresh”

Aku tertawa. “Hahaha….Semoga saja”

“Bye… Hati-hati sahabatku”, ucap Ye Eun sebelum aku masuk ke ruang Check-in. Aku melambaikan tangan pada Ye Eun. Sahabatku, aku meninggalkan cintaku di Korea. Sahabatku, aku tidak mungkin melupakannya. Sahabatku, aku sangat mencintainya. Sahabatku, jangan doakan aku melupakannya, karena aku sangat mencintainya.

Aku melihat dia. Hari ini dia akan berangkat ke Paris. Diam-diam aku ingin melihatnya pergi. Aku hanya ingin melihatnya untuk terakhir kali.

TENG…..TONG…..TENG….TONG…

“Sudah waktunya?”, mataku melirik jam.

Aku melihat ke arah Hyeri, wanita itu berjalan pelan masuk ke dalam ruangan Check-in. Saat ini aku ingin sekali mengejarnya. Menahan dirinya agar tidak pergi. Tapi itu tidak mungkin.

Saat sosoknya benar-benar menghilang dari hadapanku, baru aku menyesal.

“OPPA?? Kyuhyun Oppa?”

Aku menoleh ke kanan. “Omo !!”

“Kenapa ada di sini?”, Ye Eun berjalan mendekat.

“Ah,, itu….”

“Hyeri?”

“ANIYA!”

Aku tidak tahu harus bilang apa. tiba-tiba Ye Eun langsung menamparku dan menarik paksa ke ruang Check-in. Beberapa satpam menghalangi, tapi Ye Eun membentak mereka.

“KIM HYERI!!!”

Aku kaget, teriakan Ye Eun tadi terlalu kencang. Dan sekarang Kim Hyeri muncul dengan wajah kaget.

“Oppa? Kenapa ada di?”

Ye Eun mendorongku ke depan Hyeri. “Katakan yang mau kau katakan!”

Aku terdiam. Berdiri di hadapan wanita yang aku suka membuatku jadi kikuk dan membisu.

“YA! Kalian berdua! Cepat selesaikan! Bilang saranghae saja susah?!”

“YA! JANG YE EUN!!”, aku dan Hyeri berteriak bersamaan.

“Ckckck… Lihat, teriak saja kompakan. Ah, sudahlah. Biar aku saja yang bilang. Hyeri, jadi si Kyuh…Hmmmphh”, buru-buru aku membekap mulut Ye Eun. Ye Eun memberontak, aku tersenyum kikuk

“Oppa, Ye Eun. Aku pergi dulu. Gomawo sudah mengantarku”, Hyeri membungkuk dan berjalan masuk.

“Aish…. Oppa! Kenapa kau malah diam saja? Cepat kejar dia!”

Aku masih membatu. Hyeri sudah masuk ke ruangan  kaca di depan dan akan naik ke pesawat.

“OPPA!!”, Ye Eun berteriak kesal.

“KIM HYERI…!!”, aku berteriak di depan kaca. Ia berbalik ke belakang, melihatku dengan matanya yang berkaca-kaca. Aku lihat mulutnya berbicara sesuatu, lalu tangannya membentuk hati.

Aku terdiam. Perasaan bahagia itu meluap-luap.

Aku menggerakkan tanganku juga, membentuk hati dan ia tertawa. Aku ikut tertawa.

Aku mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah, lalu membentuk lingkaran, dan menunjuk Hyeri.

“Dua bulan lagi aku menjemputmu!”, teriakku. Tentu saja itu tidak akan terdengar. Hyeri menunjuk telponnya dan menunjukku. Lalu telpon itu pindah ke telinganya. Aku mengerti. Kepalaku mengangguk. Telponku berbunyi. Aku buru-buru mengangkatnya.

“Oppa…”, sapanya.

“Hyeri…”

“Gomawo sudah mengantarku”

“Cheonmaneyo…”

“Hyeri…?”

“Ne?”

“Dua bulan lagi aku akan menjemputmu. Baik-baik di sana. Ara?!”

“Ne”

“Saranghae…”, ucapku.  Akhirnya kalimat itu terucap juga.

“Na do…”

“Saranghae…”, ucapku lagi.

Hyeri tertawa. “Na do…”

“Saranghae…”, ucapku lagi. Hyeri makin tertawa.

“Na do…”

“Saranghae….”, ucapku sekali lagi.

“Na Do saranghae…”

Aku tersenyum. “Sampai jumpa dua bulan lagi”

“Ne Oppa”

Lalu telpon ditutup, dan Hyeri naik ke pesawat.

“Oppa… Saranghae??”, Ye Eun menggodaku. Aku mengangguk malu.

“Aigooo. Lucunya kalian ini”. Aku menatap langit biru. “Oppa,,”, panggil Ye Eun. “Chukhaeyo.. Aku akan setia menunggu undangan dari kalian”, godanya.

“Ne, tunggu saja”

Langit hari ini memang tidak cerah, udaranya juga dingin. Tapi ini musim gugur yang paling indah. Dan aku harap, musim gugur tahun berikutnya aku bisa berjalan di dedaunan yang berguguran, menggandeng tangannya, dan memeluk tubuhnya. Aku tidak sabar menanti hari itu.

Advertisements

3 comments on “Drabble : Secret Admirer being to boyfriend

  1. Aigo…cerita mereka benar2 manis….
    sequel nya dong…setelah hyeri slesai kuliah gitu..atau smpai mereka nikah..hehe
    Nice ff…ditunggu ff selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s