Sad Sonata part 1

 

Cast : Kim Ryeowook, Cho Kyuhyun, Kim Hyeri, Lee Raneul

Dia adalah dewi Aprodhite

 

AKU BERUMUR 14 TAHUN saat melihatnya. Tatkala di usia itu, orang-orang biasanya akan diperkenalkan dengan cinta. Tak ada bedanya denganku, cinta juga datang saat itu. Saat melihatnya pertama kali, bagai seorang buta yang baru pertama kali melihat dunia, atau bagai seorang musafir yang kehausan di padang pasir bertemu dengan sumber air. Itulah perasaanku, rasanya seperti pertama kali aku melihat surga. Perasaan yang menyenangkan saat setiap hari bisa melihatnya, meski tidak bisa mengobrol, tapi berada di sekitarnya membuat hatiku bahagia.

Hari-hariku dipenuhi dengan dirinya. Di saat senggang ataupun di saat aku tidak sengaja melewati kelasnya, selalu saja aku berusaha mengintip lewat jendela. Di adalah oksigenku, dia adalah sumber kehidupanku, aku akui aku telah jatuh cinta terlalu dalam. Kau tak akan bisa berpaling saat melihat matanya. Matanya yang indah itu selalu bercahaya saat berbicara denganmu,matanya yang akan sedikit menutup saat membaca, dan matanya yang melengkung sempurna saat tertawa. Ia tidak bangga dengan matanya itu,sepertinya ia sengaja menutupi keindahan itu dengan kacamata berbingkai hitam.

Aku memang masih kecil, masih terlalu dini untuk membedakan yang mana cinta atau suka. Tapi aku menyukai semua yang ada pada dirinya. Di mataku tidak ada wanita lain yang secantik dia. Dia adalah dewi aphroditeku.

Kim Hyeri, nama wanita itu. Kisahku, kisahnya, atau mungkin aku sebut kisah kami berempat baru saja dimulai saat usia kamu masih belia. Mungkin ini adalah kisahku tapi sayang kisahku tak berakhir bahagia. Tidak, karena dia tidak mencintaiku.

 

…………

SM Academy, aku salah satu murid di sekolah bergengsi ini. Namaku Kim Ryeowook, dan aku sangat mencintai musik.  Di sini aku memilih jurusan musik sebagai otoritas utama. Mimpiku adalah menjadi musisi yang menghasilkan berbagai macam lagu. Piano adalah teman terbaikku, sedih, senang, bahkan disaat aku merasa kesepian, kucurahkan semuanya dengan nada-nada lagu. Lagu yang pertama kali aku mainkan saat aku baru berumur 3 tahun adalah chopin. Perkenalan pertamaku dengan piano dan awal mula aku mencintai piano.

Seperti biasa, aku berangkat dengan sepedaku menuju academy. Di sini, semua murid diwajibkan untuk tinggal di asrama. Dan aku cukup senang, karena pihak sekolah menyediakan kamar yang sangat nyaman untuk ditinggali. Pagi ini cuaca sangat sejuk, masih terasa sisa-sisa musim dingin, sepedaku melaju lambat, aku ingin menikmati pagi hari sebelum melanjutkan aktivitas sekolah.

Sesampainya di parkiran sepeda, mataku terhenti di sepeda warna hijau dengan keranjang di depannya. Sepeda itu sangat manis, dan ada helm berwarna hijau muda di dalam keranjangnya

“Ryeowook-ah…”

Aku menoleh ke kiri. Temanku, Cho Kyuhyun, sama-sama jurusan musik melambai-lambai dari atas sepedanya.

CKIIIIT

Sepeda itu berhenti tepat di garis batas parkir, aku tertawa melihat tingkahnya.

“Selalu seperti itu. Kau tidak takut jatuh Kyu?”

Kyuhyun mengedikkan bahu seperti biasa sambil memutar bola matanya. “Kyuhyun tidak akan jatuh dari sepeda”, katanya sambil melepas helm dan menarikku menuju lobi gedung sekolah.

Aku dan Kyuhyun langsung berjalan menuju kelas. Sambil berjalan kami mengobrol tentang liburan.

“Jadi pulang ke Incheon, huh?”

Aku mengangguk. “Tapi sayang tidak ada oleh-oleh untukmu”

Kyuhyun merengut, wajahnya menekuk kecewa. “Nathan Kim memang pelit. Kau bahkan tidak mau mengeluarkan seratus won saja untukku”

“Karena aku sangat sibuk. Bukan berarti aku pelit”,elakku.

“Kalau begitu hari ini kau harus traktir aku. Bagaimana?”, Kyuhyun terkekeh, lalu berlari duluan menuju kelas. “Kau duduk di sebelahku seperti kelas satu, Oke??”, teriaknya.

Aku mengangguk saja lalu berjalan cepat menyusul Kyu.Saat baru masuk kelas, langkahku terhenti.

Dia….wanita pertama yang membuat jantungku berhenti sesaat. Aku bahkan hampir lupa bagaimana rupa pelangi saat melihatnya. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku terpana, berdiri mematung di pintu kelas.

Dia…wanita itu duduk diam di meja sambil membaca buku. Poninya bergerak ketika dia menunduk, bola matanya bergerak menekuni setiap kalimat di buku. Aku seperti tersihir, atau terkena panah cinta. Waktu seakan berhenti dan rasanya kakiku tidak menginjak bumi lagi. Hatiku sudah terbang ke atas langit, mengadukan pada awan-awan putih di sana, bahwa ada anak adam yang jatuh cinta.

Jantungku berdetak kencang saat wanita itu mendongakkan kepalanya dan melihat ke arahku. Dia menatapku, hanya sedetik, lalu kembali menekuni buku.

 

………

Cinta? Cintakah? Apa terlalu cepat untuk memutuskan kalau perasaan ini adalah cinta. Aku duduk diam melihatnya dari kursi, wanita itu berjalan dengan anggun ke depan kelas dan menulis sebaris huruf.

Kim Hyeri

“Annyeonghaseyo, Kim Hyeri Imnida. Mannaseo bangapsumnida”, suaranya bagaikan kicauan burung di pagi hari, begitu bening dan menyenangkan. Aku tersenyum melihat bibir buah cheri itu tersenyum kikuk dan matanya mengerjap-ngerjap mengitari kelas.

“Hyeri-ssi, kau asli korea?”, tanya Lee Raneul, salah satu primadona di SM Academy.

Hyeri menggeleng. “Aniyo,, aku keturunan korea-perancis. Tapi aku lama tinggal di Indonesia”

“Kenapa pindah ke sini?”, Lee Raneul bertanya lagi.

“Karena aku lulus di ujian kesetaraan, jadi aku di sini”,jawabnya kalem.

Seluruh kelas terkagum-kagum. Itu artinya Hyeri mendapat beasiswa penuh dari SM.

“Jurusanmu disini apa?”

“Nomor telpon boleh minta kan?”

“Sekalian alamat rumah”

Seisi kelas jadi riuh-rendah. Aku melihat matanya yang melihat ke arah jendela lalu kembali tersenyum manis ke kelas. Auranya begitu dalam, suasana kelas jadi hening menunggu jawabannya. “Aku jurusan akting, tapi aku juga tertarik dengan piano. Nomor telpon? Aku tidak punya handphone dan aku disini tinggal di asrama”

Di saat itu aku sadar, cinta itu datang tanpa aku mau, tak bisa kutolak. Tapi tak bisa juga kuraih.

 

……..

Aku sedang membaca not balok sambil mengetuk-ngetukkan jari ke atas meja. Sekarang waktunya jam istirahat. Sekolah ini tidak sama dengan sekolah lain. Dibandingkan dengan sekolah umum, SM Academy sedikit kuno soal peraturan, ditambah dengan ketatnya persaingan antar individu. Jadi jangan heran kalau jam istirahat bukannya digunakan untuk tidur atau makan. Kami biasanya akan pergi ke ruangan piano, biola, ruang dansa dan ruangan lainnya. Satu yang harus diingat, ruangan itu harus dipesan dulu, karena terlalu banyak orang yang ingin memakai ruangan kedap suara.

Hari ini juga seperti biasa, Kyuhyun yang suka musik modern sedang berlatih gitar di atas atap bersama teman-teman bandnya. Sedangkan aku duduk disini sambil membaca not balok atau pergi ke ruang piano untuk berlatih sebuah melodi klasik. Mataku tak sengaja menangkap Hyeri yang sedang membaca. Aku memperhatikan punggungnya dari belakang.

Punggung itu bahkan terlihat bercahaya dan membuatmu ingin memeluknya. Merasuki setiap lekuk tubuhnya dan menghirum aromanya. Hyeri serius sekali membaca, dan aku disini juga serius menatapnya.

“Kau suka dia?”

Aku kaget, muka Raneul tepat dibelakangku. “Bukan urusanmu”.

“Mulutmu bisa bohong Ryeowook-ah, tapi tidak dengan matamu”

Aku mencibir Raneul, dia hanya tersenyum sambil menepuk bahuku. “Sok tahu”

“Orang yang tidak jujur saat ditanya bola matanya akan bergerak ke kiri. Dan kau!”, Raneul menunjukku. “Matamu tidak pernah menatap mataku tadi saat aku tanya soal Hyeri”

“Wow.. Hebat! Kau bisa jadi peramal Raneul-ah”, cibirku.

“Oh God, please! Aku serius Nathan Kim!”

Aku taruh buku lagu di atas meja dan duduk menghadap Raneul. “Lalu bagaimana menurutmu? Apa aku punya kesempatan?”

Raneul menggeleng.

“What?”

Raneul lagi-lagi menggeleng. “Mianhae.. Aku rasa tidak. Soalnya kau cowok penakut,pengecut dan terlalu jaga image. Jadi lupakan saja Hyeri”. Jujur saja, aku merasa kepalaku terbakar mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Raneul.

“Aku juga kasihan kalau Hyeri dapat cowok yang penakut. Hyeri terlalu sempurna untukmu Ryeowook-ah.. Kau tahu? Kalian bagai bumi dan langit”

Aku terdiam.  Sejauh itukah? Hyeri masih membaca buku tadi,kepalanya menunduk. Ku genggam erat kumpulan lagu klasik dan berjalan pergi meninggalkan kelas. Aku marah, tapi aku juga tidak mampu menyangkal ucapan Raneul.

Advertisements

2 comments on “Sad Sonata part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s